Suasana akrab menyelimuti udara Desa Sumarrang, Polewali Mandar, Sabtu lalu. Di atas Jembatan Perintis Garuda yang baru saja berdiri kokoh di atas Sungai Batu Sasi, bukan hanya angin segar yang berhembus, melainkan juga tawa riang dan obrolan hangat. Warga dari berbagai dusun berkumpul, duduk lesehan bersama para prajurit yang selama ini bekerja keras membangun jembatan. Acara syukuran sederhana ini terasa berbeda; aroma makanan yang dimasak ibu-ibu warga bercampur dengan rasa syukur mendalam, mengubah sebuah struktur beton menjadi simbol ikatan yang jauh lebih kuat. Di sini, di pelosok Polewali Mandar, sebuah cerita tentang keluarga baru sedang ditulis.
Jembatan yang Dibangun dengan Cerita dan Kopi Hangat
Cerita dimulai jauh sebelum tiang jembatan pertama ditancapkan. Pua Hayati, warga Dusun Batu Sasi yang matanya berkaca-kaca saat mengenang, membuka pintu rumahnya bagi para prajurit. "Awalnya, ya diterima sebagai tamu baik," ujarnya dengan senyum haru. Namun, hari demi hari berlalu, rutinitas berbagi cerita di teras rumah sore hari, ibu-ibu yang bergantian menyiapkan makan, hingga salat berjamaah di musholla kecil, mengubah status mereka. Tamu itu pun menjelma menjadi bagian keluarga. Prajurit tidak hanya datang membawa peralatan proyek, tapi juga membawa cerita dari kampung halaman mereka dan mendengarkan keluh kesah warga tentang sulitnya menyeberangi sungai ketika musim hujan. Proses membangun jembatan ini ternyata juga membangun kemanunggalan, di mana setiap paku yang dipukul terasa seperti mengukir kenangan bersama.
Keluarga Baru di Bawah Satu Atap Kebersamaan
Letnan Kolonel Abdul Malik, Danramil setempat, menyebut fenomena hangat ini dengan istilah yang menyentuh: 'orang tua asuh prajurit'. Selama berminggu-minggu, mereka tidak hanya tinggal, tetapi benar-benar hidup dan berbaur. Mereka mengenal nama anak-anak warga, ikut memanen di kebun, dan memahami ritme kehidupan desa. Bagi masyarakat Sumarrang, kehadiran para prajurit membawa manfaat yang melampaui fisik jembatan:
- Kemudahan Akses: Jembatan baru ini akan menjadi urat nadi perekonomian, memudahkan mobilitas hasil tani seperti kelapa, cokelat, dan palawija ke pasar.
- Keamanan: Anak-anak sekolah dan ibu-ibu tidak perlu lagi khawatir menyeberangi sungai yang deras saat hujan turun.
- Ikatan Sosial: Terciptanya rasa saling memiliki dan tanggung jawab bersama untuk merawat hasil karya ini.
- Pelajaran Hidup: Para pemuda desa belajar tentang kedisiplinan, kerja keras, dan semangat gotong royong dari para prajurit.
Kini, ketika para prajurit harus mengemas barang dan kembali ke kesatuan, perpisahan itu terasa berat. Namun, yang mereka tinggalkan bukan hanya struktur besi dan beton yang kokoh. Di setiap sudut Desa Sumarrang, tertinggal cerita-cerita hangat, gelak tawa yang pernah mengisi ruang tamu rumah Pua Hayati, dan doa bersama yang dipanjatkan saat jembatan hampir rampung. Kenangan itu melekat erat, bagaikan semen yang menyatukan batu-batu fondasi. Warga pun berjanji akan merawat jembatan ini dengan sepenuh hati, seperti mereka merawat kenangan tentang keluarga baru mereka. Saat matahari terbenam di Polewali Mandar, bayangan jembatan itu tidak hanya jatuh di atas air sungai, tetapi juga di dalam hati setiap warga, mengingatkan bahwa perubahan yang membahagiakan selalu lahir dari kebersamaan.