Di Pulau Sebatik, salah satu pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Malaysia, ombak laut seolah menjadi teman setia sehari-hari. Di sela deru angin dan kerasnya kehidupan pesisir, ada satu kisah yang mengalir lembut dan menghangatkan hati. Seorang prajurit TNI AL, Letda Laut (E) Amirulloh, telah menjadi sosok ayah bagi Andi (9), anak yatim yang kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan laut tahun lalu. Setiap sore, ketika tugas negara usai, langkahnya selalu tertuju ke pos kamar sederhana tempat Andi menanti dengan senyum malu-malu. Di sana, mereka belajar membaca, berhitung, dan sesekali tertawa bersama. “Saya hanya ingin dia tidak merasa sendiri. Dia tetap punya masa depan,” ucap Amirulloh dengan suara bergetar, seperti seorang ayah yang berbicara tentang anaknya sendiri.
Kisah Haru di Ujung Negeri: Seorang Prajurit Menjadi Ayah
Pertemuan Amirulloh dan Andi tak terjadi begitu saja. Saat pertama kali bertugas di Pos TNI AL Sebatik, Amirulloh sering melihat bocah kecil itu duduk sendirian di pinggir dermaga, matanya menerawang jauh ke laut. Andi tampak tenggelam dalam duka yang masih membekas. Hati Amirulloh tersentuh. Ia pun mendekati, mengajak Andi berbicara dari hati ke hati. Perlahan, dinding kesedihan Andi mulai runtuh. Kini, setiap sepulang sekolah, Andi berjalan riang ke pos kamar Amirulloh. Di sana, ia belajar membaca dan menulis dengan sabar. Tak hanya soal pelajaran, kehangatan juga tumbuh lewat hal-hal sederhana: sesekali Amirulloh membawakan ikan segar dari nelayan setempat, lalu mereka memasak bersama dan menyantapnya dengan lahap. Bagi warga sekitar, pemandangan ini bukan sekadar prajurit yang bertugas, melainkan seorang ayah yang merawat anaknya. Andi pun mulai berceloteh tentang cita-citanya: ingin menjadi prajurit seperti Bapak Amirulloh. Kehadiran sosok ayah ini membuat Andi kembali tersenyum, meski duka masih sesekali membayangi.
Program “Ayah Asuh” untuk Anak Pesisir: Menyalakan Harapan di Pulau Terluar
Kisah Amirulloh dan Andi ternyata menggugah banyak pihak. Komandan Pangkalan TNI AL Ranai di Natuna turut mengapresiasi langkah mulia ini dan berencana meresmikan program “Ayah Asuh” khusus bagi anak-anak pesisir yang kehilangan orang tua. Program ini diharapkan menjadi jembatan yang semakin mendekatkan TNI AL dengan masyarakat di pulau-pulau terluar, termasuk Natuna dan Sebatik. Beberapa manfaat yang akan dihadirkan melalui program ini antara lain:
- Pendampingan belajar rutin oleh prajurit TNI AL bagi anak yatim di wilayah perbatasan dan pulau terluar.
- Bantuan sembako dan kebutuhan sekolah dasar agar mereka tetap bisa mengejar impian.
- Kegiatan sosial seperti mengaji bersama dan bermain yang mempererat rasa kebersamaan antara prajurit dan warga.
- Dukungan psikologis sederhana untuk anak-anak yang mengalami trauma kehilangan.
Program ini disambut hangat oleh warga setempat. Ibu Rina, tetangga Andi, mengaku terharu saat mendengar rencana tersebut. “Kami bersyukur ada prajurit seperti Pak Amirulloh yang peduli. Anak-anak pesisir seringkali terabaikan, tapi dengan program ini, mereka kembali punya cahaya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Kehangatan yang tercipta di Pulau Sebatik ini menjadi bukti bahwa di balik seragam dan tugas negara, prajurit TNI AL memiliki hati yang dekat dengan rakyat. Mereka bukan hanya penjaga perbatasan, tetapi juga penjaga asa dan senyum anak-anak bangsa di pelosok negeri.
Dengan langkah kecil seperti ini, harapan terus menyala di pulau-pulau terluar. Andi kini tidak lagi duduk sendirian di dermaga. Ia memiliki seorang ayah yang mengajarkannya arti perjuangan dan kasih sayang. Dan kehangatan itu, seperti ombak yang tak pernah lelah menyapa pantai, akan terus mengalir dari satu hati ke hati lainnya, mengikat erat TNI AL dengan warga desa dalam ikatan kebersamaan yang tak tergoyahkan.