Di ujung utara Kalimantan, tepatnya di Desa Long Bawan, Kecamatan Krayan, prajurit TNI tak hanya menjaga batas negara, tapi juga ikut mencerdaskan anak-anak desa. Setiap sore, ketika matahari mulai merunduk di balik bukit, Serda Andi bersama beberapa rekannya berjalan kaki menuju sebuah surau kecil. Di situlah mereka mengajar membaca, menulis, dan berhitung — atau yang akrab disebut calistung — kepada puluhan anak yang bersemangat menunggu kedatangan para prajurit. Di tengah keterbatasan akses pendidikan formal, kehadiran TNI menjadi cahaya harapan bagi warga desa perbatasan.
Mencerdaskan di Ujung Negeri
Desa Long Bawan memang berada di pelosok perbatasan Indonesia-Malaysia. Jalanan berbatu, listrik tak selalu menyala, dan sinyal telepon masih sulit ditangkap. Namun semangat belajar anak-anak di sini tak pernah padam. Mereka rela berjalan kaki dari rumah ke surau, membawa buku usang dan pensil pendek. Serda Andi bercerita, “Awalnya kami hanya iseng-iseng ngajar. Tapi lihat semangat mereka, kami jadi terharu. Sekarang ini sudah jadi rutinitas setiap sore.”
Kegiatan mengajar ini bukan sekadar memberi pelajaran, tapi juga membangun kedekatan antara TNI dan warga desa. Anak-anak belajar dengan riang, sesekali diselingi nyanyian lagu daerah. Para prajurit pun tak canggung duduk di lantai surau, sabar membimbing setiap anak yang masih kesulitan mengeja. Mereka membawa buku tulis dan alat tulis dari pos komando, meski jumlahnya terbatas.
- Setiap sore, 15–20 anak berkumpul di surau untuk belajar calistung bersama TNI.
- Para prajurit menggunakan metode bermain sambil belajar agar anak-anak tidak bosan.
- Keterbatasan buku dan alat tulis diatasi dengan berbagi pinjam dan memanfaatkan kertas bekas.
- Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antara TNI dan warga desa.
Kegembiraan di Surau Kecil
Suasana di surau kecil itu selalu hangat. Anak-anak duduk lesehan, ada yang memegang papan tulis kecil, ada yang sekadar menggunakan jari untuk menghitung. Serda Andi kadang mengajak mereka bernyanyi lagu “Pelangi-Pelangi” atau “Naik-Naik ke Puncak Gunung” untuk mencairkan suasana. Tawa dan tepuk tangan bergema di ruangan sederhana itu. “Kami tidak hanya mengajar, tapi juga belajar dari mereka. Mereka mengajarkan kami tentang semangat dan ketulusan,” ujar Serda Andi sambil tersenyum.
Orang tua anak-anak pun turut senang. Mereka mengaku sangat berterima kasih atas perhatian TNI. “Dulu anak saya malas belajar, sekarang setiap sore sudah siap-siap ke surau. Katanya mau belajar sama bapak TNI,” kata Maria, salah satu ibu di desa. Kehadiran TNI di tengah masyarakat perbatasan bukan hanya sebagai penjaga negara, tapi juga sebagai pelita pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa di mana pun berada, kepedulian dan gotong royong mampu menembus keterbatasan. Semoga semangat Serda Andi dan rekan-rekannya menginspirasi kita semua untuk peduli pada pendidikan anak-anak desa tercinta. Karena di tapal batas sekalipun, mimpi dan harapan tetap tumbuh subur. Mari kita jaga kebersamaan ini, karena setiap anak berhak mengejar cita-cita.