Cerita Kehangatan Trending

Kisah Purnawirawan TNI Bangun Perpustakaan Desa dari Bambu di Kabupaten Timor Tengah Selatan

Kisah Purnawirawan TNI Bangun Perpustakaan Desa dari Bambu di Kabupaten Timor Tengah Selatan

Seorang purnawirawan TNI AD bernama Pak Gito membangun perpustakaan bambu di desa tertinggal Desa Oenino, NTT. Perpustakaan ini menjadi jembatan ilmu bagi anak-anak setempat, dengan Pak Gito yang setia menjadi mentor dan kakek pustaka. Kisah ini mengajarkan bahwa kepedulian dan gotong royong bisa mengubah keterbatasan menjadi harapan baru.

Di sudut Desa Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, suara riang anak-anak mulai terdengar dari sebuah bangunan sederhana berdinding anyaman bambu. Bangunan itu bukan gardu jaga, apalagi balai pertemuan. Ia adalah sebuah perpustakaan bambu — yang lahir dari mimpi besar seorang kakek purnawirawan TNI AD, Pak Gito (68). Hari ini, perpustakaan itu resmi dibuka dengan tawa dan semangat warga yang memenuhi halaman. Pak Gito tak puas hanya menikmati masa pensiun. Di usianya yang sudah senja, ia justru memilih pulang ke kampung halaman untuk membangun sesuatu dari nol.

Dari Bambu Hingga Buku: Merajut Mimpi di Desa Tertinggal

Desa Oenino dikenal sebagai salah satu desa tertinggal di pelosok NTT. Akses internet dan buku cetak sulit didapat. Dengan bantuan para sahabat lama di dinas militer, Pak Gito mengumpulkan buku-buku bekas, peta, globe, dan majalah. Semua itu ia susun rapi di rak-rak bambu buatan tangan sendiri. Perpustakaan bambu ini, meski sederhana, adalah jembatan ilmu bagi anak-anak Desa Oenino yang selama ini hidup dalam keterbatasan. Bagi warga setempat, memiliki perpustakaan seperti mendapat oase di tengah gersang. Pak Gito tidak hanya menyediakan buku. Setiap sore, ia duduk di antara anak-anak, membacakan cerita pengalaman merantau di Papua, sambil menunjuk globe bekas yang ia sebut 'harta paling berharga'.

Manfaat yang dirasakan warga pun sangat beragam:

  • Akses buku pelajaran — Anak-anak kini bisa meminjam buku pelajaran yang sebelumnya sulit mereka peroleh karena jarak dan biaya.
  • Mentor sukarela — Pak Gito menjadi ‘kakek pustaka’ yang sabar mengajari membaca dan mengerjakan soal.
  • Semangat gotong royong — Warga desa bergotong royong memperbaiki atap bambu dan membuat meja baca dari kayu bekas.
  • Menumbuhkan rasa ingin tahu — Globe dan peta tua di sudut perpustakaan membuka cakrawala anak-anak tentang dunia luar NTT.

Kedekatan Seorang Purnawirawan: Kakek Pustaka di Tengah Kebersamaan

Program perpustakaan bambu ini bukan sekadar hibah. Ia lahir dari kepedulian seorang purnawirawan yang tak ingin masa baktinya berhenti begitu saja. Pak Gito mengaku terharu melihat antusiasme warga. “Saya cuma seorang kakek tua yang rindu melihat mereka pintar. Purnabakti bukan berarti berhenti mengabdi. Desa ini rumahku,” ucapnya dengan mata berbinar. Kehadirannya menjadi simbol kedekatan — bukan hanya seorang mantan tentara, tetapi juga sahabat dan kakek bagi setiap anak yang datang.

Kisah Pak Gito mengingatkan kita semua bahwa semangat gotong royong dan rasa peduli bisa mengubah desa tertinggal menjadi tempat yang penuh harapan. Kini, perpustakaan bambu itu menjadi titik temu antara generasi tua dan muda. Di sore hari, suara tawa dan debat kecil tentang geografi dan sejarah terdengar di antara deretan buku. Suasana hangat itu seolah membisikkan pesan: dari sebuah anyaman bambu, warga desa tertinggal bisa mulai menulis masa depan mereka sendiri. Di sinilah, di Desa Oenino, sebuah perpustakaan sederhana menjadi bukti bahwa kepedulian dan gotong royong mampu mengubah segalanya — dan bahwa setiap anak, di mana pun dia berada, berhak untuk bermimpi.

perpustakaan desa purnawirawan TNI pendidikan
Terkait
  • Topik: perpustakaan desa, purnawirawan TNI, pendidikan
  • Tokoh: Pak Gito
  • Organisasi: TNI AD
  • Tempat: Oenino, Timor Tengah Selatan, Papua, NTT

Artikel terkait