Pagi itu di Desa Cicadas, Purwakarta, embun pagi masih membasahi daun padi yang mulai menguning. Di antara hamparan hijau keemasan yang luas, terlihat sosok Serka Eko Setyono—seorang Babinsa—yang dengan celana berlumpur dan caping sederhana, sedang asyik mengobrol dengan para petani. Ia bukan datang sebagai tamu atau pengawas, melainkan seperti saudara yang turun ke sawah untuk mendengar, merasakan, dan menemani. Inilah wujud nyata seorang prajurit yang memilih mengabdi langsung di tengah kehidupan warga, menumbuhkan kedekatan yang hangat di antara pematang sawah, sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan pangan desa.
Obrolan di Galengan: Ketulusan yang Menyuburkan Sawah dan Persaudaraan
Bagi Serka Eko, sawah adalah ruang obrolan yang paling jujur. Bukan senjata atau seragam yang menjadi 'senjata'-nya hari itu, melainkan ketulusan hati dan telinga yang siap mendengar. "Kehadiran kami di sini adalah untuk membantu mengatasi kesulitan Bapak dan Ibu sekalian," ujarnya suatu ketika, sambil duduk lesehan di tepi galengan. Pendampingan yang dilakukannya mengalir seperti obrolan antar keluarga, membicarakan hal sehari-hari yang sarat makna: keluh kesah tentang hama, diskusi tentang harga pupuk, hingga harapan-harapan kecil untuk panen yang lebih melimpah. Di sinilah hubungan antara prajurit dan rakyat terasa hidup—bukan di ruang rapat yang dingin, tapi di antara gemerisik daun padi dan hangatnya sinar matahari pagi.
Seorang petani dengan mata berbinar berbagi, "Ada yang datang, mau mendengar, mau ngobrol tentang tanaman kita. Rasanya jerih payah kami dihargai." Program pendampingan dari Babinsa ini seperti angin segar bagi warga Cicadas. Mereka merasa didengar, ditemani, dan tidak sendiri dalam menghadapi tantangan di ladang. Sinergi ini bagai pupuk bagi rasa percaya, yang menyuburkan lebih dari sekadar tanaman padi, tetapi juga semangat kebersamaan di desa.
Sawah yang Menjadi Sekolah Kehidupan Bersama Babinsa
Kehadiran Serka Eko tak berhenti pada mendengar. Sawah pun berubah menjadi ruang belajar bersama yang penuh keakraban. Dalam setiap percakapan, terselip ilmu, semangat, dan perhatian yang membawa banyak hal positif bagi para petani. Pendampingan penuh empati ini hadir dalam bentuk sederhana namun bermakna, seperti:
- Berbagi pengetahuan praktis, misalnya cara mengenali gejala awal serangan hama pada tanaman padi.
- Bertukar pengalaman tentang pola tanam yang lebih efektif dan menguntungkan untuk lahan setempat.
- Memberikan motivasi dan semangat untuk tetap bertahan meski harga pupuk dan tantangan alam terkadang membebani.
- Mendengarkan serta mengapresiasi ide-ide kreatif petani lokal dalam mengelola lahan mereka sendiri.
Ketika ada keluhan, Babinsa turut merasakan. Ketika solusi ditemukan, kegembiraan itu dibagi bersama, menyebar seperti kabar baik dari satu rumah ke rumah lainnya. Di era banyak pemuda memilih merantau, kehadiran yang tulus seperti ini menjadi penyejuk hati bagi mereka yang memilih bertahan, mengolah warisan leluhur di tanah kelahiran dengan bangga dan penuh harapan.
Ketika senja mulai menyapa dan bayangan memanjang di sawah, Serka Eko berpamitan dengan janji untuk kembali besok. Senyum para petani yang mengantarnya pergi bicara lebih keras dari kata-kata. Mereka pulang dengan hati yang lebih ringan dan tenang, karena tahu ada saudara yang peduli, yang hadir bukan hanya sebagai petugas, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar Desa Cicadas. Inilah fondasi ketahanan pangan yang sejati—dibangun bukan hanya dari padi yang tumbuh subur, tetapi dari ikatan hati, obrolan tulus di galengan, dan keyakinan bahwa dalam menggarap ladang, mereka tidak berjalan sendirian. Kebersamaan seperti inilah yang menguatkan desa, menyemai harapan di setiap jengkal tanah, dan menumbuhkan masa depan yang lebih cerah dari hamparan padi yang menguning.