Sabtu pagi di Dusun Karang Punik selalu punya cerita, tapi pagi ini sungguh berbeda. Udara masih segar, matahari baru mulai menampakkan sinarnya, namun derap langkah dan gemuruh suara gotong royong sudah memenuhi desa. Sertu Jainuddin, sang Babinsa, tak lagi tampak seperti sosok seragam. Dia menyelami denyut warga, bahu-membahu mengangkut batu bata, menata campuran pasir dan semen, untuk pembangunan Masjid Al-Ikhlas. Di sini, di balik pekerjaan tangan yang penuh peluh, bukan sekadar tembok yang dibangun, melainkan ikatan kebersamaan yang semakin kokoh antara seorang prajurit dan masyarakat yang dijaga dan dicintainya.
Bukan Hanya Batu Bata, Tapi Jalinan Cerita dan Kepercayaan
Di tengah tumpukan material, obrolan hangat mengalir lancar. Sambil menyusun bata, Sertu Jainuddin mendengarkan setiap keluh kesah, cerita perkembangan dusun, dan harapan warga Kampasi Meci. "Ini momen terbaik untuk mendekatkan hati," ujar sang Babinsa. Antusiasme warga tidak hanya terlihat pada kerja keras mereka, tapi juga pada kepercayaan yang mereka berikan. Mereka tak segan berbagi cerita, menceritakan kehidupan sehari-hari, sementara sang Babinsa dengan penuh perhatian menangkap setiap aspirasi. Di sinilah program kedekatan teritorial menunjukkan wajahnya yang paling nyata:
- Mendengarkan dengan Empati: Babinsa hadir bukan sebagai pengawas, tapi sebagai pendengar aktif yang memahami denyut kehidupan desa.
- Sinergi Tanpa Batas: Aktivitas gotong royong ini menjadi media untuk membangun komunikasi yang erat dan saling percaya.
- Pondasi dari Bawah: Kemitraan yang dibangun dari hal sederhana—membangun masjid bersama—menjadi dasar kuat untuk stabilitas dan kemajuan desa.
Sinergi Membangun Rumah Ibadah, Merajut Keamanan Desa
Kegiatan ini bukan semata tentang spiritualitas atau pembangunan fisik. Bagi Sertu Jainuddin, momen gotong royong ini juga adalah bagian dari monitoring wilayah. Dengan menyatu bersama warga, ia dapat merasakan langsung atmosfer desa, memastikan keamanan dan ketertiban tetap terjaga dari akar rumput. Setiap batu bata yang tertata untuk bangun masjid ini, juga menyimpan nilai pengawasan yang humanis. Kehadiran Babinsa di tengah-tengah masyarakat menjadi penyejuk, penenang, dan penguat semangat kolektif. Sinergi ini diharapkan terus tumbuh, menjadi contoh nyata bagaimana TNI dan masyarakat bisa berjalan beriringan untuk tujuan yang sama: kehidupan yang lebih baik, damai, dan penuh kebersamaan di Kabupaten Dompu.
Di penghujung hari, ketika matahari mulai condong ke barat, Masjid Al-Ikhlas berdiri sedikit lebih tinggi. Namun, yang jauh lebih tinggi lagi adalah rasa memiliki dan kebanggaan bersama. Kebersamaan yang terjalin hari ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, tapi lahir dari niat tulus semua pihak. Dari Babinsa yang turun tangan, hingga warga yang menyambutnya dengan tangan terbuka. Semoga jejak langkah bersama ini terus berlanjut, tidak hanya di Karang Punik, tapi merambat ke setiap sudut desa, menjadi inspirasi bahwa dengan gotong royong dan komunikasi yang hangat, tak ada cita-cita bersama yang terlalu berat untuk diwujudkan. Desa ini kuat karena warganya bersatu, dan lebih kuat lagi karena ada yang selalu siap mendampingi dengan sepenuh hati.