Di lereng Gunung Muria, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pagi itu bukan sekadar pagi biasa. Udara segar khas pegunungan berpadu dengan gelak tawa dan suara cangkul yang beradu dengan tanah. Ratusan warga dari berbagai kalangan—petani, ibu-ibu, pemuda, hingga sesepuh desa—berkumpul bersama Bintara Pembina Desa (Babinsa) setempat untuk mewujudkan satu mimpi besar: menghijaukan kembali lahan kritis yang mulai kehilangan air dan kesuburannya. Ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan panggilan hati untuk menjaga bumi tempat mereka berpijak, tempat anak cucu kelak akan melanjutkan kehidupan. Di bawah terik matahari pagi, semangat gotong royong yang sejak lama menjadi nafas warga desa, kembali terasa hidup.
Dari Lahan Kritis Menjadi Harapan Baru
Mereka menyusuri lahan tandus yang dulu pernah rimbun, membawa ribuan bibit pohon produktif dan keras—seperti alpukat, sengon, dan mahoni—di tangan. Babinsa, yang sehari-hari sudah akrab disapa seperti saudara sendiri, memimpin langkah dengan teladan. “Kita tanam pohon ini untuk anak cucu kita. Biar mereka bisa minum air yang bening dan bernapas dengan lega,” ujar Sertu Adi, salah satu Babinsa yang ikut menggali lubang sedalam setengah meter. Warga pun saling membantu, ada yang menyiram bibit, ada yang menancapkan ajir, dan tak sedikit yang mengobrol sambil bertukar cerita. Suasana ini terasa hangat, seperti kerja bakti biasa di kampung halaman—penuh canda, namun serius dalam tujuan. Berikut manfaat yang mereka harapkan dari program penghijauan ini:
- Menjaga ketersediaan air bersih—dengan pohon yang menyerap dan menyimpan air tanah, warga tak lagi khawatir kekeringan di musim kemarau.
- Mencegah longsor dan erosi—akarnya yang kuat akan mengikat tanah di lereng curam Gunung Muria.
- Menyediakan sumber kehidupan—pohon buah dan kayu kelak bisa menjadi tambahan penghasilan untuk keluarga.
Babinsa dan Warga: Dua Sisi Mata Uang Kemanusiaan
Kehadiran Babinsa dalam kegiatan ini lebih dari sekadar pengawas. Mereka menjadi bagian dari denyut nadi desa. Bapak Kardi, seorang sesepuh desa yang sudah berusia 70 tahun, duduk di bawah pohon sambil mengelus bibit yang baru saja ditanamnya. “Menanam pohon itu seperti menanam doa,” katanya dengan mata berbinar. “Babinsa ini sudah seperti anak sendiri, setiap ada kerja bakti dia yang pertama datang. Ini bukan tugas, tapi panggilan jiwa.” Program teritorial seperti ini menunjukkan bahwa pembinaan kewilayahan bukan hanya tentang latihan militer, melainkan tentang membangun lingkungan yang sehat dan masyarakat yang tangguh. Diharapkan, ribuan bibit yang sudah ditanam akan tumbuh menjadi hutan rakyat yang kuat—memberi keteduhan, udara bersih, dan menjadi saksi bisu kebersamaan yang tak lekang oleh zaman. Semua ini terjadi di Jawa Tengah, tempat di mana nilai-nilai kearifan lokal masih terjaga.
Di penghujung hari, letih dan peluh terbayar oleh senyum puas. Warga dan Babinsa duduk bersama di bawah pohon beringin tua, menikmati secangkir kopi yang diseduh salah satu warga sambil bercerita tentang bibit yang akan diairi esok hari. Mungkin ribuan pohon ini belum bisa mengubah Gunung Muria dalam semalam, namun semangat gotong royong yang terjalin hari ini sudah menjadi pupuk paling subur. Karena sejatinya, menjaga alam bukan hanya soal menanam pohon—tapi soal menanam cinta, persaudaraan, dan keyakinan bahwa jika kita bersatu, masa depan yang hijau pasti akan tumbuh.