Di balai desa yang sederhana, di bawah sinar lampu temaram, warga Desa Tunggilis, Kabupaten Garut, berkumpul. Suara riuh rendah obrolan dan tawa anak-anak yang sesekali berlari di luar ruangan menambah semarak. Hari itu adalah forum 'Jumat Curhat', ajang rutin di mana warga bisa menyampaikan unek-unek langsung kepada aparat. Pak Ujang, seorang petani berusia 50 tahun, memberanikan diri angkat bicara. Suaranya lantang namun sopan, menyisakan hening sejenak. “Pak, sudah bertahun-tahun jalan dusun kami becek kalau hujan, motor susah lewat. Kapan diperbaiki?” tanyanya, sekaligus menjadi suara puluhan kepala keluarga di dusun itu.
Dari Keluhan Jadi Aksi: Gotong Royong Warga dan TNI-Polri
Suasana tegang seketika mencair saat Babinsa setempat berdiri dan memberikan jawaban. “Dalam waktu dekat, kita usulkan ke dana desa. Saya dan Pak Bhabin akan turun langsung gotong royong dengan warga. Nggak usah khawatir,” ujarnya dengan senyum menenangkan. Warga yang tadinya waswas, kini tersenyum lega. Forum ini bukan sekadar tempat curhat, melainkan wujud nyata bahwa aspirasi warga didengar dan ditindaklanjuti. Perwakilan Polsek dan Babinsa hadir, bukan hanya duduk manis, tetapi siap mencatat dan mengawal setiap keluhan, termasuk soal jalan desa yang rusak. Mereka berjanji akan turun langsung ke lapangan, bergotong royong bersama warga memperbaiki akses jalan yang becek dan berlubang.
Forum Jumat Curhat: Bukti Negara Hadir di Tengah Warga
Forum yang digelar rutin ini menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat. Setiap hari Jumat, warga Desa Tunggilis bebas menyampaikan keluhan, mulai dari jalan rusak, got tersumbat, hingga masalah air bersih. Tidak ada jarak, tidak ada sekat. Semua duduk bersama, sama rata. Forum desa ini menjadi bukti bahwa negara hadir bagi warganya di pelosok. Berikut manfaat yang langsung dirasakan warga:
- Respons cepat – Keluhan yang disampaikan langsung dicatat dan ditindaklanjuti dalam waktu dekat.
- Gotong royong – TNI-Polri turun langsung bersama warga memperbaiki infrastruktur, seperti jalan desa dan saluran air.
- Suara didengar – Warga merasa diperhatikan, bukan sekadar slogan “negara hadir”.
- Musyawarah hidup – Semangat bermusyawarah kembali dihidupkan, mempererat rasa kebersamaan.
Pak Ujang pun mengaku senang. “Saya kira hanya didengar, ternyata direspon. Besok kita mau gotong royong bikin jalan. Ini baru namanya kerja sama,” ujarnya sambil tersenyum. Ibu-ibu yang membawa bekal pun ikut nimbrung, menceritakan bahwa got tersumbat di depan rumah mereka juga sudah dijadwalkan perbaikan. Semua terasa ringan karena dikerjakan bersama.
Dari balai desa yang sederhana, harapan baru tumbuh. Warga Desa Tunggilis kini percaya bahwa setiap suara memiliki arti. Tidak ada lagi keluhan yang menggantung di udara, karena negara hadir melalui tangan-tangan hangat Babinsa dan Polsek. Di balik setiap jalan becek yang akan diperbaiki, ada semangat gotong royong dan rasa saling percaya yang terus dipupuk. Inilah Indonesia yang sesungguhnya: di mana setiap desa adalah rumah, dan setiap warganya adalah saudara.