Pagi itu, udara Desa Cikole masih segar ketika derap kaki seorang Babinsa menyusuri jalan setapak. Bukan membawa senjata atau buku patroli, melainkan membawa wadah berisi bumbu dapur dan ikan sungai segar. Program ‘Babinsa Masuk Dapur’ kembali hadir, dan kali ini sasarannya adalah ibu-ibu PKK yang sedang berkumpul di balai desa. Suasana hangat langsung terasa ketika mereka mulai memotong bawang, menumbuk bumbu, dan menyalakan kompor kecil. Dapur sederhana itu berubah menjadi ruang belajar yang penuh tawa dan harapan.
Dari Dapur Sederhana, Aroma Abon Ikan Menguar
Program yang digagas untuk memperkuat ekonomi keluarga ini mengajarkan para ibu mengolah ikan sungai menjadi abon yang tahan lama. Selama ini, ikan yang didapat hanya digoreng atau dimasak santan, lalu habis dalam sekali makan. Kini, dengan pendampingan langsung dari Babinsa, ibu-ibu belajar teknik mengolah yang benar, mulai dari memfillet ikan, mencampur bumbu, hingga menyangrai dengan api kecil sampai teksturnya kering dan gurih. Aroma harum bumbu segera memenuhi ruangan, membuat siapa pun yang lewat terhenti dan tersenyum.
Ibu Ratih, salah satu peserta, tak bisa menyembunyikan raut bahagianya. “Biasanya ikan cuma digoreng, kalau abis ya udah. Sekarang bisa jadi stok lauk bahkan dijual,” ujarnya riang sambil mengaduk abon di wajan. Wajahnya berseri ketika melihat hasil olahannya mulai berubah menjadi serat-serat halus yang kering dan tahan lama. Pelatihan memasak seperti ini terasa berbeda karena bukan sekadar teori, melainkan praktik langsung yang menyentuh kehidupan sehari-hari warga.
Ada beberapa hal yang membuat program ini begitu berarti bagi ibu-ibu Desa Cikole:
- Ikan sungai yang selama ini murah dan melimpah kini bisa diubah menjadi produk bernilai jual tinggi.
- Ibu-ibu mendapat keterampilan baru yang bisa dikerjakan dari rumah tanpa meninggalkan tugas keluarga.
- Hasil olahan abon dirancang tahan lama, sehingga bisa menjadi stok lauk keluarga sekaligus peluang usaha bagi UMKM desa.
- Kedekatan antara Babinsa dan warga semakin erat, karena mereka hadir sebagai teman belajar yang sabar.
Babinsa Bukan Sekadar Menjaga, tapi Menyapa dan Mendampingi
Kehadiran Babinsa di tengah dapur warga seolah mengubah cara pandang tentang TNI. Mereka tidak hanya berkeliling untuk memeriksa keamanan, tetapi juga duduk bersama, sesekali menyeka keringat sambil menimbang bumbu, dan bersabar menjelaskan setiap langkah. Lewat program ‘Babinsa Masuk Dapur’, TNI ingin menunjukkan bahwa keamanan juga lahir dari ekonomi yang kuat dan hubungan yang hangat antara aparat dengan masyarakat.
Kegiatan ini juga menjadi pintu masuk untuk memperkuat UMKM desa. Hasil olahan ibu-ibu nantinya akan dipasarkan melalui koperasi desa, sehingga tidak hanya berhenti sebagai keterampilan di dapur, tetapi berlanjut ke usaha bersama yang bisa menghidupi banyak keluarga. Ibu Ratih dan kawan-kawannya pun mulai bermimpi membuat kemasan abon yang cantik dengan label khas Desa Cikole. Koperasi desa digadang-gadang akan menjadi motor pemasaran, menghubungkan produk mereka ke tangan-tangan yang menanti.
Matahari mulai meninggi, tetapi hangatnya kebersamaan di balai desa tak kunjung padam. Dari dapur kecil itulah, harapan baru bagi ekonomi keluarga tumbuh perlahan. Dengan pendampingan penuh kasih dari Babinsa, ibu-ibu Desa Cikole tak hanya belajar mengolah ikan — mereka belajar bahwa gotong royong selalu menjadi kunci untuk melangkah maju. Semoga setiap serat abon yang mereka hasilkan membawa kesuksesan yang panjang bagi desa tercinta.