Senja di Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, kini tak lagi membawa kegelapan. Di tiga desa terpencil—Nagari Durian, Nagari Tarantang, dan Nagari Guguak—aliran Sungai Batang Pangkalan berubah menjadi melodi harapan. Dulu, warga hanya bisa menikmati listrik beberapa jam sehari lewat genset yang berisik dan mahal. Namun kini, berkat program kilas pelosok yang digagas TNI AD bersama PLN dan pemerintah daerah, sebuah gardu listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) berkapasitas 50 kW hadir menerangi kehidupan mereka. Suara gemericik air berpadu dengan dengungan turbin, seolah menyanyikan lagu baru bagi warga yang selama ini hidup dalam keterbatasan. Senja bukan lagi awal kegelapan, melainkan awal dari aktivitas dan harapan baru.
Dari Gelap ke Terang: Kisah Tiga Nagari di Pangkalan
Bagi Bapak Marzuki, Wali Nagari Durian, kehadiran listrik 24 jam ini bagaikan mimpi yang menjadi nyata. “Kami sudah puluhan tahun hanya bergantung pada genset yang hidup beberapa jam saja. Sekarang anak-anak bisa belajar malam, dan kami bisa menjalankan usaha kecil,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Kisah serupa juga dirasakan Randi, seorang pemuda Desa Tarantang. Melalui program kilas pelosok ini, ia dan pemuda lainnya tidak hanya menjadi penonton. Mereka mendapat pelatihan langsung cara merawat turbin dan memperbaiki panel kontrol. “Kami dilatih cara membersihkan turbin dan memperbaiki panel kontrol,” kata Randi bangga. Semangat gotong royong pun tumbuh subur, menjadikan proyek mikro hidro ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan gerakan kemandirian energi di desa terpencil.
Gotong Royong di Aliran Sungai: Pelatihan untuk Kemandirian
Tidak hanya menerima terang, warga juga dibekali kemampuan untuk merawat sendiri PLTMH. Pemuda setempat dilatih secara langsung oleh TNI AD, sehingga mereka mampu menjaga turbin dan panel tanpa bergantung pada pihak luar. Berikut adalah manfaat yang menjadi hadiah terindah bagi tiga desa di Sumbar ini:
- Listrik 24 Jam: Setiap rumah kini dialiri listrik nonstop, tak lagi bergantung pada genset yang mahal dan bising.
- Anak Bisa Belajar Malam: Anak-anak di Nagari Guguak bisa mengerjakan PR dan belajar di bawah lampu terang, membuka peluang meraih cita-cita setinggi langit.
- Usaha Kecil Berkembang: Ibu-ibu di Durian bisa menjalankan usaha kecil seperti menjahit atau membuat kue di malam hari, menambah penghasilan keluarga.
- Hemat Biaya: Tak perlu lagi membeli solar atau bensin untuk genset, keuangan keluarga lebih sehat untuk kebutuhan lain.
- Kemandirian Energi: Pelatihan langsung membuat pemuda setempat mampu merawat PLTMH, memastikan listrik tetap menyala tanpa ketergantungan.
Semua ini terwujud berkat sinergi hangat antara TNI AD, PLN, dan Pemda yang memanfaatkan potensi alam—aliran deras Sungai Batang Pangkalan—dengan bijak. Di bawah langit senja, peresmian program ini diadakan dengan potong nasi tumpeng dan doa bersama. Para tokoh adat, pemuda, dan ibu-ibu duduk melingkar, bersyukur atas terang yang kini menyinari desa mereka. Di pelosok Sumbar, khususnya di Kabupaten Lima Puluh Kota, semangat kemandirian dan gotong royong terus bersemi—mengingatkan kita bahwa dari aliran air yang tenang, lahirlah cahaya yang tak pernah padam.