Di beranda rumah warga Desa Pelemgadung, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen, pagi itu terasa berbeda. Bukan karena ada proyek besar atau kunjungan pejabat, melainkan karena secangkir kopi hangat yang menyatukan hati. Danramil Karangmalang, Lettu Arh Ifa Aiwan Kristono, bersama para Babinsa, duduk lesehan di antara warga. Mereka bercengkerama akrab, ditemani kopi dan kudapan tradisional. Suasana santai ini adalah bagian dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-128, namun yang terasa justru lebih dari sekadar pembangunan fisik. Di sinilah, di atas tikar sederhana, sekat antara prajurit dan rakyat luluh menjadi satu keluarga besar.
Ngopi Bareng: Merajut Kekeluargaan di Tengah Pembangunan Desa
Momen ngopi bareng ini bukan sekadar basa-basi. Danramil Lettu Arh Ifa Aiwan Kristono menegaskan bahwa keberhasilan TMMD tidak hanya diukur dari jalan yang mulus atau rumah yang berdiri, melainkan dari seberapa kokoh rasa persatuan dan kepercayaan yang tumbuh antara TNI dan rakyat. Dengan duduk bersama, mendengarkan langsung aspirasi warga, dan berbagi cerita kehidupan, kemanunggalan itu hidup dalam setiap obrolan ringan. Komunikasi yang terbangun secara alami ini menjadi perekat emosional yang sangat kuat, jauh melebihi laporan proyek atau data statistik. Warga pun merasa dihargai dan dilibatkan dalam setiap langkah pembangunan desa mereka.
- Mempererat silaturahmi antara TNI dan masyarakat melalui obrolan santai tanpa formalitas.
- Menyerap aspirasi warga secara langsung, sehingga program TMMD benar-benar sesuai kebutuhan desa.
- Menumbuhkan rasa memiliki terhadap program pembangunan, karena warga menjadi bagian dari proses.
- Memperkuat semangat gotong royong yang sudah menjadi tradisi di Sragen dan seluruh pelosok negeri.
Kemanunggalan yang Hidup dalam Obrolan Ringan
Roni Indarto (50), tokoh pemuda setempat, merasakan langsung kehangatan ini. Ia mengungkapkan kebanggaannya melihat sikap humanis prajurit TNI yang setelah bekerja keras membangun desa, masih menyempatkan waktu untuk bercengkerama dengan warga. "Hal kecil seperti ngopi bareng ini membuat kami merasa dihargai dan dekat. TNI tidak hanya datang untuk bekerja, tapi benar-benar menjadi bagian dari kami," ujar Roni dengan mata berbinar. Kehadiran TNI telah membawa lebih dari sekadar infrastruktur; mereka menghadirkan rasa aman, membangkitkan semangat gotong royong, dan mengukuhkan persaudaraan di Desa Pelemgadung. Momen-momen seperti inilah yang membuat kemanunggalan TNI-Rakyat bukan hanya slogan, melainkan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Program TMMD Reguler ke-128 di Sragen memang dirancang untuk pembangunan fisik, seperti perbaikan jalan dan renovasi rumah warga. Namun, yang paling berharga adalah ikatan batin yang terjalin. Warga Desa Pelemgadung kini tak hanya memiliki infrastruktur yang lebih baik, tetapi juga hubungan kekeluargaan yang semakin erat dengan para prajurit. Mereka tahu bahwa TNI selalu ada, tidak hanya saat ada proyek, tetapi juga dalam suka dan duka. Rasa aman dan kepercayaan itu tumbuh subur, seperti tanaman yang disiram setiap hari.
Hari itu, di beranda rumah warga, kopi memang sudah habis. Namun kehangatan yang tersisa masih terasa hingga kini. Warga berharap momen ngopi bareng seperti ini terus berlanjut, bukan karena ada TMMD, tapi karena ini adalah cara terindah untuk merawat persaudaraan. Di Desa Pelemgadung, secangkir kopi telah menjadi simbol kemanunggalan yang abadi. Semoga semangat ini terus menyala di seluruh pelosok Sragen, dan di mana pun TNI berada.