Suasana sore di Desa Sei Upun, Entikong, Kalimantan Barat, punya ceritanya sendiri. Di balik pemandangan hijau perbatasan, ada rintihan halus yang sering terdengar ketika matahari mulai tenggelam. Bukan rintihan angin, tapi keluhan warga yang sudah terlalu lama hidup dengan listrik yang datang dan pergi sepuluh jam sehari. Hidup di ujung negeri ini memang punya tantangannya, dan listrik yang tak stabil telah menjadi bagian dari cerita keseharian mereka.
Suara dari Balik Gelapnya Malam
Di sebuah ruang pertemuan sederhana, wajah-wajah penuh harap berkumpul. Mereka adalah Bapak dan Ibu dari Desa Sei Upun yang datang menyampaikan aspirasi warga mereka. "Anak-anak sulit belajar malam hari, Pak. Seringkali mereka harus mengandalkan cahaya lampu minyak," keluh seorang ibu dengan suara lirih. Bapak Heri, pemilik warung kecil di ujung kampung, menambahkan, "Kulkas di warung saya sering rusak karena listrik mati-hidup. Banyak barang jadi busuk. Keluhan ini sudah lama kami pendam." Di sudut ruangan, Danpos TNI setempat mendengarkan dengan saksama, matanya menangkap setiap harapan yang tersirat dalam setiap kata.
TNI sebagai Jembatan Pengharapan
Dalam forum komunikasi sosial itu, militer tidak datang dengan senjata, tapi dengan telinga dan hati yang terbuka. "Kami catat semua yang Bapak dan Ibu sampaikan," ujar Danpos dengan nada tenang namun tegas. "Aspirasi ini akan kami sampaikan ke pemerintah daerah dan pihak PLN melalui jalur koordinasi kami. Untuk sementara, kami akan coba bantu dengan genset darurat untuk kegiatan belajar mengajar anak-anak dulu." Janji itu bukan sekadar kata-kata kosong. Desa perbatasan seperti Sei Upun sering kali merasa terabaikan, namun kehadiran TNI di sini memberikan keyakinan bahwa suara mereka masih ada yang mendengar.
Program kedekatan teritorial seperti ini membawa manfaat nyata bagi warga:
- Ruang Aspirasi Terbuka: Warga punya tempat untuk menyampaikan keluhan dan harapan mereka langsung
- Penjembatanan Langsung: TNI menjadi perantara yang menghubungkan aspirasi warga dengan instansi terkait
- Bantuan Konkret: Solusi sementara seperti genset darurat membantu aktivitas penting warga
- Pendampingan Berkelanjutan: Ada pendampingan hingga permasalahan listrik di desa perbatasan ini menemui solusi permanen
Cerita dari Kalimantan Barat ini mengingatkan kita akan pentingnya mendengarkan. Di balik angka-angka pembangunan, ada suara anak-anak yang ingin belajar dengan cahaya yang terang, ada ibu-ibu yang ingin menyimpan sayuran segar untuk keluarganya, ada bapak-bapak yang ingin usahanya tetap berjalan meski malam telah larut. Desa perbatasan mungkin jauh secara geografis, tapi hati mereka seharusnya selalu dekat dalam perhatian kita.
Angin malam mulai berembus di Sei Upun, namun kali ini ada harapan baru yang ikut terbawa. Genset darurat yang dijanjikan mungkin belum sepenuhnya menggantikan listrik yang stabil, tapi kehadirannya adalah simbol bahwa perjuangan warga didengar. Di Kalimantan yang luas ini, di desa-desa yang kerap terlupa, masih ada cahaya yang berusaha dititipkan—cahaya harapan bahwa besok akan lebih terang, bahwa suara dari pelosok akan sampai, dan bahwa tak ada warga yang harus belajar dalam gelap selamanya.