Di kaki perbukitan Tolikara, Papua Pegunungan, hari-hari warga kini terasa tidak seperti biasanya. Sejak 5 Oktober 2026, kabar tentang kehadiran pasukan di sekitar kawasan hutan dan kebun—tepatnya di Telenggeme, Kempu, dan Gondage—membuat banyak hati bertanya-tanya. Padahal, tempat-tempat itulah yang selama ini menjadi denyut kehidupan: tempat ibu-ibu memetik sayur, bapak-bapak berburu, dan anak-anak membantu mencari kayu bakar. Kini, langkah kaki warga yang biasa riang menuju kebun berubah menjadi ragu-ragu. Kekhawatiran warga mulai menyelimuti, dan trauma lama perlahan kembali menghantui. Aktivitas sehari-hari yang dulu sederhana kini terasa penuh beban, karena keamanan di sekitar kebun dipertanyakan.
Kebun Adalah Jantung Kehidupan
Bagi masyarakat Tolikara, kebun bukan sekadar tanah dan tanaman. Kebun adalah dapur yang menyediakan makanan setiap hari, sekaligus pasar tempat mereka memperoleh kebutuhan hidup. Ketika aktivitas di kebun terganggu, maka yang terancam bukan hanya perut, tetapi juga masa depan keluarga. Banyak warga yang memilih diam di rumah karena takut bertemu dengan pasukan di lokasi yang biasa mereka singgahi. Padahal, kalau bukan ke kebun, ke mana lagi mereka bisa mencari ubi, sayur, dan kayu bakar?
Anggota DPR Papua Pegunungan, Terius Wakur, menyuarakan langsung kegelisahan ini. Ia menegaskan bahwa keberadaan pasukan di titik-titik vital bagi kebutuhan sehari-hari justru membuat warga semakin tertekan. “Ini tidak boleh. Mereka berada di tempat-tempat yang biasa digunakan warga untuk mencari makanan. Akibatnya masyarakat trauma dan aktivitas mereka terhenti,” ujarnya dengan tegas. Suara ini adalah suara dari lorong-lorong kampung, dari para perempuan yang memikul noken penuh harapan, dan dari para bapak yang menggenggam parang dengan hati-hati.
Harapan Warga yang Sederhana
Di tengah suasana yang penuh tanya, warga tidak meminta hal yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin ada kejelasan, ada komunikasi yang hangat, dan ada rasa aman dalam menjalani hidup. Terius pun mendesak pimpinan TNI-Polri untuk segera memberikan klarifikasi serta penjelasan yang menenangkan. Menurutnya, keamanan sejati bukan hanya tentang tidak adanya tembakan, melainkan hadirnya rasa tenteram di hati warga saat mereka melangkah ke kebun. Berikut harapan warga yang disuarakan dengan rendah hati:
- Adanya penjelasan resmi dan transparansi mengenai tujuan kehadiran pasukan di sekitar kebun dan hutan warga.
- Jaminan bahwa kegiatan berkebun, berburu, dan mengambil hasil hutan tetap berjalan seperti biasa tanpa gangguan.
- Terjalinnya komunikasi rutin antara aparat keamanan dan tokoh masyarakat agar tidak ada kesalahpahaman di lapangan.
- Kehadiran pasukan yang justru memberi rasa aman, bukan menambah beban trauma bagi ibu-ibu dan anak-anak.
Keresahan warga Tolikara adalah cermin dari kebutuhan kita bersama akan kedamaian yang nyata. Ketika kebun kembali ramai oleh tawa dan sapaan, ketika asap dapur mengepul tenang di ujung senja, di situlah keamanan sesungguhnya dirasakan. Semoga para pemimpin dan aparat keamanan mendengar suara kecil dari kampung-kampung ini, dan bersama-sama menjaga agar aktivitas di kebun tetap berjalan, serta kekhawatiran warga berganti menjadi senyum lega. Karena pada akhirnya, kehangatan sebuah desa terletak pada rasa aman setiap warganya saat melangkah ke ladang kehidupan.