Langit sore di Desa Watusomo, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri, tampak murung, seolah ikut merasakan kegelisahan yang mengendap di hati Pak Parto (67). Ia duduk di teras rumahnya yang berdinding anyaman bambu lapuk, menatap rintik hujan yang mulai turun. “Wah, bocor lagi nih,” gumamnya sambil menarik ember bekas untuk menampung air yang menetes dari atap. Rumah yang ia tempati bersama istrinya itu sudah puluhan tahun tidak tersentuh perbaikan. Dinding bambu mulai reyot, lantai tanah becek, dan angin dingin dengan leluasa masuk melalui celah-celah. Pak Parto bukan satu-satunya; belasan warga di dusun ini masih menanti kepastian bantuan rumah tidak layak huni (RTLH) yang mereka harapkan.
Menanti di Tengah Rintik Harapan
Pertanyaan Pak Parto sebenarnya sederhana, tetapi penuh makna: “Kapan bantuan RTLH cair? Apa saja syaratnya?” Tahun lalu, Kepala Desa sudah mendata rumah-rumah yang masuk kategori tidak layak huni. Nama Pak Parto dan tetangganya tercatat rapi. Namun hingga kini, tak ada kabar pasti. Padahal, setiap musim hujan tiba, mereka harus bergotong-royong menambal atap dengan terpal bekas. “Cucu-cucu saya kalau datang, malah nggak betah karena lantainya becek. Saya malu,” ujarnya lirih. Padahal, surat keterangan tidak mampu sudah lama ia pegang. Yang ia butuhkan hanyalah kepastian – kabar bahwa pemerintah benar-benar hadir di pelosok seperti Watusomo.
Aspirasi warga seperti Pak Parto sering kali hanya terdengar di musyawarah desa, lalu tenggelam begitu saja. Padahal, melalui media seperti ini, suara mereka bisa menjangkau lebih jauh – hingga ke meja para pengambil kebijakan di Wonogiri. Semua warga berharap agar pemerintah kabupaten lebih proaktif dalam merespons kebutuhan RTLH yang sudah terdata. Berikut beberapa manfaat yang sangat mereka harapkan dari program bantuan rumah ini:
- Penggantian dinding bambu dengan bata yang lebih kokoh dan aman.
- Perbaikan atap agar tidak bocor saat hujan deras.
- Perubahan lantai tanah menjadi semen yang bersih dan tidak becek.
- Peningkatan kesehatan keluarga karena lingkungan rumah lebih layak huni.
- Rasa percaya diri warga dalam menjamu tamu atau keluarga yang datang.
Kedekatan Teritorial: Saat Negara Hadir di Pelosok
Kisah Pak Parto bukanlah keluhan – ini adalah harapan yang mengetuk pintu kesadaran kita bersama. Di banyak desa, TNI dan pemerintah daerah sering turun langsung untuk membantu pembangunan. Program teritorial seperti TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) pernah menyentuh Kismantoro, tapi belum semua rumah tersentuh. Warga hanya ingin pemerintah lebih dekat, lebih sering berdialog, dan lebih cepat bertindak. “Kami nggak minta mewah, cukup rumah yang tidak bocor, lantai yang tidak becek, itu sudah bahagia,” tutur Pak Parto sambil tersenyum getir.
Di Wonogiri sendiri, RTLH memang menjadi program prioritas. Namun realisasinya sering terhambat oleh proses administrasi dan koordinasi desa-kabupaten. Di Kecamatan Kismantoro, puluhan kepala keluarga masih berharap giliran mereka tiba. Bantuan rumah berupa material bangunan dan dana stimulan sangat dinantikan. Bagi warga desa, itu bukan sekadar rumah – itu martabat dan rasa aman.
Malam semakin larut, tetapi harapan Pak Parto tak kunjung padam. Di setiap rintik hujan, ia selalu berdoa agar tahun ini gilirannya tiba. Semoga suara dari pelosok Watusomo ini didengar oleh mereka yang berwenang. Karena pada akhirnya, program RTLH bukan sekadar proyek, melainkan bukti bahwa negara hadir untuk warganya yang paling membutuhkan. Bersama-sama, kita jaga semangat gotong royong dan kebersamaan, agar tak ada lagi warga yang harus tidur dalam kebasahan di tengah malam.