Matahari memang sudah tenggelam di ufuk barat, tapi wajah Desa Nanga Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kini tak lagi diselimuti gelap. Senyum merekah para ibu yang sibuk memasak, dan anak-anak asyik belajar di bawah cahaya lampu listrik. Semua itu berkat listrik gratis dari Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Malaysia. Seperti obrolan akrab di teras rumah, warga menceritakan bagaimana dulu malam hari adalah waktu yang menakutkan — hanya suara jangkrik dan lampu minyak tanah yang temaram. Kini, di perbatasan Kalimantan Barat, terang benderang hadir dari energi matahari yang diubah menjadi harapan baru.
Cahaya dari Negeri Seberang: Panel Surya Bawa Harapan Baru
Letkol Inf. Budi Santoso, Dansatgas Pamtas, langsung memimpin program ini dengan hati. "Kami hadir untuk menerangi negeri, bukan hanya dari segi keamanan tapi juga kesejahteraan," katanya saat peresmian. Sebanyak 50 unit panel surya kini terpasang di rumah-rumah warga, menghadirkan listrik gratis yang tak hanya untuk penerangan. Anak-anak bisa belajar malam hari tanpa khawatir kehabisan minyak tanah. Ponsel warga terisi penuh, menjadi jembatan komunikasi dengan keluarga di luar desa. Pos kesehatan desa pun bisa menyimpan vaksin dengan aman di lemari pendingin. Kepala Desa Samsul Bahri tak bisa menyembunyikan kegembiraannya: "Sekarang anak-anak bisa belajar malam hari, tanpa khawatir kehabisan minyak tanah."
Program ini bukan sekadar memberi bantuan, melainkan juga pemberdayaan. Warga mendapat pelatihan singkat untuk merawat panel surya — membersihkan permukaan, memeriksa sambungan kabel, hingga mengganti baterai. TNI mengajarkan cara memancing, bukan hanya memberi ikan. Filosofi gotong royong yang sudah mengakar di desa pun kembali hidup. Setiap minggu, warga bergotong royong membersihkan panel surya bersama, sementara TNI rutin memantau kondisinya. Kebersamaan ini bukan hanya tentang listrik gratis, tapi juga solidaritas yang makin erat antara warga dan aparat.
Listrik Gratis, Perbatasan Terang, Kesejahteraan Merata
Manfaat program ini langsung terasa dalam keseharian warga. Sejak listrik gratis menyala di perbatasan Kalimantan Barat, banyak hal berubah. Berikut beberapa manfaat yang paling dirasakan:
- Anak-anak bisa belajar hingga malam, meningkatkan kualitas pendidikan di desa terpencil.
- Poskesdes kini bisa menyimpan vaksin dengan aman, menjaga kesehatan ibu dan bayi di perbatasan.
- Ponsel warga tetap terisi, memudahkan koordinasi dengan petugas TNI dan keluarga di kota.
- Gotong royong perawatan panel surya mempererat kebersamaan warga desa.
Energi surya yang ramah lingkungan jadi solusi tepat untuk daerah yang sulit dijangkau jaringan listrik konvensional. Di desa ini, sinar matahari melimpah sepanjang hari, dan kini dimanfaatkan untuk menghadirkan terang. Program ini menjadi bagian dari komitmen TNI untuk mendekatkan diri dengan warga di pelosok. Dengan target seluruh rumah tangga di desa, listrik gratis ini bukan sekadar penerangan — ia adalah cahaya harapan, ikatan kebersamaan, dan janji bahwa tidak ada lagi desa yang tertinggal di negeri ini. Di setiap lampu yang menyala, ada senyum dan semangat gotong royong yang terus berkobar.