Di Kampung Kamba, Kabupaten Mamberamo Raya, hari-hari ini terasa berat bagi warganya. Beberapa pekan setelah banjir bandang melanda, poros jalan desa yang menjadi urat nadi kehidupan kini berubah menjadi puing-puing tanah becek dan lubang besar. Pagi hari, para ibu kesulitan mengantar anak ke sekolah, sementara para petani harus ekstra hati-hati membawa hasil kebun mereka ke pasar. Suara mesin kendaraan sesekali terdengar, tapi lebih sering roda terperosok di lumpur. “Kami sangat merindukan jalan yang layak. Ini sudah seperti mimpi panjang yang belum terwujud,” ujar Markus, seorang tokoh pemuda yang hatinya teriris melihat kondisi kampungnya.
Jalan Poros, Jalan Penghidupan
Jalan utama Kampung Kamba bukan sekadar lintasan biasa. Jalan ini adalah penghubung antara rumah dengan ladang, antara kampung dengan puskesmas, dan antara warga dengan pasar. Sejak banjir bandang menerjang, kehidupan warga terhambat. Hasil pertanian seperti ubi dan sayuran sering membusuk di kebun karena sulit dibawa keluar. Bayangkan, ketika seorang warga jatuh sakit, mereka harus bergotong-royong memikul tandu melewati jalan becek demi mencapai puskesmas yang jaraknya puluhan kilometer. Belum lagi anak-anak yang harus menembus lumpur untuk sampai ke sekolah. Ini bukan hanya soal aspal atau beton, tapi soal harga diri sebuah kampung yang ingin hidup lebih mudah.
- Akses hasil kebun ke pasar terhenti, pendapatan warga menurun drastis.
- Pelayanan kesehatan menjadi taruhan nyawa; setiap perjalanan darurat penuh risiko.
- Anak-anak harus ekstra waspada saat berangkat sekolah, terutama saat hujan tiba.
Babinsa Jadi Jembatan Aspirasi Warga
Di tengah keterbatasan, kehadiran Babinsa setempat hadir sebagai sahabat yang mendengarkan. Setiap pekan, anggota TNI ini menyambangi warga di gardu ronda atau sekadar duduk di emperan rumah Markus. “Kami ceritakan semua. Babinsa tidak hanya diam, tapi dia catat dan sampaikan ke atas,” kata Markus dengan mata berbinar. Aspirasi warga ini kemudian diteruskan ke komando distrik militer setempat agar menjadi perhatian pemerintah daerah. Program kedekatan teritorial seperti ini lah yang menjadi pengingat bahwa di balik pucuk kebijakan, masih ada denyut kehidupan warga desa yang perlu didengar. Bukan hanya soal perbaikan jalan, tapi juga tentang rasa diperhatikan dan tidak dilupakan.
Kisah Kampung Kamba adalah cermin dari banyak kampung di tanah Papua. Di balik hamparan hijau yang memesona, ters embun harapan sederhana: jalan mulus agar anak-anak bisa sekolah dengan sepatu bersih, agar ibu hamil bisa melahirkan di puskesmas tanpa ketakutan, agar hasil kebun bisa dijual dengan harga layak. Dan di balik setiap harapan itu, ada semangat gotong royong warga yang tak pernah padam. Mereka bersama-sama membersihkan saluran air, menimbun lubang dengan batu seadanya, sambil terus berdoa agar pemerintah mendengar suara mereka. Karena jalan yang baik bukan hanya soal kenyamanan, tapi soal harga diri dan masa depan kampung yang lebih cerah.