Di ujung utara Halmahera, tersembunyi Desa Mapia — perkampungan nelayan yang tenang, dikelilingi laut biru yang menjadi sumber kehidupan. Namun, di balik ketenangan itu, ada kegelisahan yang menganga setiap kali warga jatuh sakit. Untuk mencapai puskesmas terdekat, mereka harus menempuh perjalanan laut berjam-jam dengan perahu yang terombang-ambing ombak. Apalagi jika malam tiba atau cuaca buruk, laut tak bersahabat — perjalanan pun terlalu berisiko. “Kami seperti putus asa jika ada yang sakit parah di malam hari,” ujar seorang tokoh masyarakat dengan nada lirih. Suara hati ini akhirnya mulai terdengar, melalui sebuah dialog yang digagas oleh Babinsa setempat.
Suara dari Pinggir Laut: Aspirasi Warga yang Tak Bisa Ditunda
Dialog terbuka yang difasilitasi oleh Babinsa menjadi momen langka bagi warga Mapia untuk bersuara. Tanpa sungkan, mereka menyampaikan aspirasi warga yang paling mendasar: kebutuhan akan akses kesehatan yang lebih dekat dan cepat. Bukan meminta rumah sakit besar, mereka hanya menginginkan sebuah puskesmas darurat atau Pos Kesehatan Darurat (Poskesdar). Cukup satu ruangan, dilengkapi tenaga medis yang siaga, dan obat-obatan dasar untuk pertolongan pertama. “Kami tidak minta yang rumit. Hanya ingin anak dan ibu hamil kami selamat saat kritis,” tambah salah satu warga dengan mata berbinar harap.
Berikut alasan mengapa warga desa terpencil ini mendambakan posko kesehatan darurat:
- Perjalanan ke puskesmas induk memakan waktu 2–3 jam melalui jalur laut yang tidak selalu bersahabat.
- Pada malam hari atau saat cuaca buruk, mustahil melaut — artinya pasien harus menunggu hingga pagi tanpa penanganan.
- Kelompok paling rentan adalah ibu hamil, bayi, dan lansia yang membutuhkan penanganan segera dalam situasi darurat.
- Tidak ada tenaga medis yang menetap di desa; warga hanya mengandalkan pengobatan tradisional atau bantuan sesama.
Pak Babinsa, yang sehari-hari dekat dengan warga, mendengarkan seluruh keluhan dengan seksama. Dengan sikap tegas, ia berjanji akan menyampaikan aspirasi ini melalui jalur komando teritorial. “Suara warga adalah prioritas kami,” ujarnya. Dialog ini membuktikan bahwa program teritorial TNI benar-benar mendekatkan diri hingga ke pelosok. Warga pun merasa jeritan mereka tidak lagi menggema di dalam sunyi. Ada saluran yang terbuka, dan mereka mulai percaya bahwa perubahan bisa terjadi.
Poskesdar: Bukan Sekadar Bangunan, Tapi Penyelamat Nyawa
Seandainya pos kesehatan darurat itu terwujud, banyak hal akan berubah. Ibu hamil yang akan melahirkan tak perlu cemas jika kontraksi datang di malam hari. Balita yang demam tinggi bisa segera mendapat obat penurun panas. Luka akibat kecelakaan kerja dapat ditangani lebih dini sebelum terjadi infeksi. Poskesdar akan menjadi simpul pertama pertolongan, yang mengurangi risiko perjalanan jauh dan mempercepat rujukan ke rumah sakit jika diperlukan. Bagi Desa Mapia, ini bukan sekadar bangunan — ini adalah tameng antara hidup dan mati.
Kisah di Halmahera Utara ini adalah pengingat bahwa akses kesehatan adalah kebutuhan dasar yang belum merata. Namun, ketika ada kemauan untuk mendengar dan bertindak, harapan tak pernah padam. Semoga suara warga desa terpencil ini segera mendapat jawaban nyata. Karena di balik setiap aspirasi, ada denyut kehidupan yang ingin terus berdetak.