Tanya Warga Trending

Warga Desa Sumba Timur Tanya: 'Kapan Jalan Aspal Sampai ke Kampung Kami?'

Warga Desa Sumba Timur Tanya: 'Kapan Jalan Aspal Sampai ke Kampung Kami?'

Di malam yang hangat di Desa Kambajawa, Sumba Timur, warga dan Babinsa duduk bersama menumpahkan harapan akan jalan aspal yang telah lama dinanti. Dari cerita anak-anak yang terjatuh hingga hasil panen yang sulit diangkut, semua keluhan didengar dengan penuh empati. Kini, dengan semangat gotong royong dan dukungan TNI, impian akan infrastruktur yang lebih baik mulai bersemi di kampung mereka.

Malam itu, di Desa Kambajawa, Sumba Timur, NTT, udara dingin pegunungan berpadu dengan hangatnya api unggun di balai dusun. Di bawah cahaya lampu minyak yang temaram, puluhan warga duduk melingkar bersama Babinsa. Mereka tidak sekadar berkumpul—mereka membawa satu pertanyaan yang sudah lama mengendap di hati: "Kapan jalan aspal sampai ke kampung kami?" Cerita demi cerita mengalir, tentang anak-anak yang terjatuh saat berangkat sekolah, tentang hasil panen yang susah diangkut ke pasar, dan tentang tetangga yang harus digotong ke puskesmas karena akses lumpur. Malam itu, aspirasi warga Sumba Timur benar-benar didengar.

Malam Penuh Harapan: Aspirasi Warga Mengalir Deras

Kepala Desa Markus Umbu angkat bicara dengan nada penuh harap. Ia menceritakan bagaimana kondisi jalan desa yang memprihatinkan menyulitkan akses ke puskesmas dan pasar. "Kami sudah lama menunggu aspal, tapi sampai sekarang belum ada. Kalau hujan, motor tidak bisa lewat, anak-anak sekolah sering terjatuh," keluhnya. Warga mengangguk setuju, banyak yang menambahkan cerita serupa. Berikut adalah keluhan yang mengalir malam itu:

  • Jalan licin saat hujan membuat anak-anak sulit ke sekolah, sering terjatuh dan terluka.
  • Warga sakit terpaksa digotong dengan tandu darurat untuk mencapai puskesmas yang jaraknya puluhan kilometer.
  • Hasil pertanian seperti jagung dan kopi susah diangkut ke pasar, membuat harga jual anjlok.
  • Mobil angkutan umum enggan masuk desa karena takut mogok di jalan berlumpur.

Semua ini adalah keseharian yang harus mereka hadapi selama bertahun-tahun. Namun malam itu, di tengah doa dan jagung bakar, ada benih harapan yang mulai tumbuh. Kehadiran infrastruktur yang lebih baik bukan lagi sekadar mimpi—ia mulai dijemput dengan semangat gotong royong.

Babinsa di Tengah Warga: Tangan yang Siap Menggapai Aspirasi

Serma Yanto, Babinsa Kambajawa, mendengarkan dengan saksama. Ia mencatat setiap keluhan dan aspirasi warga dalam buku kecilnya. "Kami sebagai TNI di lapangan akan terus memperjuangkan kebutuhan warga. Jangan pernah putus asa, kami akan dampingi sampai jalan ini mulus," tegasnya dengan senyum khas yang menenangkan. Kehadiran TNI di tengah warga menjadi angin segar. Warga berharap program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) bisa menyasar desa mereka tahun depan. Semangat gotong royong pun muncul kembali—seperti saat mereka bersama mengurug lubang di jalan musim kemarau lalu. Kini, mereka yakin bahwa infrastruktur yang lebih baik bukan lagi mimpi.

Pertemuan yang berlangsung hingga larut malam itu ditutup dengan doa bersama dan makan jagung bakar hangat. Suasana keakraban terasa kental—seperti obrolan di malam hari antara tetangga, tak ada sekat antara warga dan TNI. Harapan untuk jalan desa yang mulus perlahan bersemi. Sebab di balik setiap keluhan, ada keyakinan bahwa tak ada perjuangan yang sia-sia selama ada kebersamaan. Warga Desa Kambajawa tersenyum—mungkin tahun depan, aspal benar-benar akan sampai ke kampung mereka, berkat perjuangan bersama dan tangan-tangan yang tak pernah lelah menggapai aspirasi warga.

infrastruktur jalan keluhan warga program TMMD
Terkait
  • Topik: infrastruktur jalan, keluhan warga, program TMMD
  • Tokoh: Markus Umbu, Serma Yanto
  • Organisasi: TNI, Dinas PU, TMMD
  • Tempat: Desa Kambajawa, Sumba Timur, NTT

Artikel terkait