Pagi-pagi buta di Desa Bonda, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, udara masih segar dan kabut tipis menyelimuti perbukitan. Di tengah kesibukan warga yang mulai beraktivitas, tampak seorang pria berseragam loreng hijau mengayuh sepeda ontel tuanya. Dialah Sertu Rahman, Babinsa yang sudah tiga tahun bertugas di desa ini. Bukan dengan mobil dinas atau motor, ia memilih sepeda ontel untuk mendekatkan diri dengan warga. Setiap pagi, ia berhenti di setiap sudut: menyapa petani yang baru pulang dari sawah, menukar senyum dengan anak-anak yang berangkat sekolah, hingga ngobrol santai dengan para ibu yang menjajakan sayur di pasar kecil desa. Kehadirannya bukan sebagai aparat yang ditakuti, tapi seperti tetangga yang selalu ada.
Senyum dan Sepeda Ontel: Babinsa yang Menjadi Bagian Keluarga
“Dia adik saya,” ujar Ibu Sari, seorang warga desa dengan mata berkaca-kaca saat menceritakan sosok Sertu Rahman. Baginya, Babinsa di Majene ini bukan sekadar petugas, melainkan keluarga sendiri. Suatu hari, Ibu Sari jatuh sakit di tengah malam. Tanpa ragu, Sertu Rahman langsung mengantar beliau ke puskesmas dengan mobil pribadinya. Ia menunggui hingga sang ibu mendapatkan perawatan, lalu mengantarnya pulang kembali. Kisah seperti ini bukan satu-satunya. Hampir setiap warga desa memiliki cerita tentang kebaikan Babinsa yang satu ini. Dari membantu memperbaiki atap rumah yang bocor hingga mengantar sembako untuk lansia, Sertu Rahman hadir tanpa pamrih. Kedekatan yang terjalin ini terasa begitu hangat, seperti obrolan akrab di beranda rumah.
Berikut beberapa bentuk kedekatan yang dirasakan warga di Majene, Sulawesi Barat, bersama Babinsa mereka:
- Peduli Kesehatan: Sertu Rahman kerap mengantar warga yang sakit ke puskesmas, bahkan di tengah malam sekalipun, menggunakan mobil pribadinya.
- Menjadi Teman Ngobrol: Setiap pagi dengan sepeda ontel, ia menyempatkan diri berbincang dengan petani, anak sekolah, dan ibu-ibu pasar, mendengar keluh kesah mereka.
- Sosial yang Hangat: Ia aktif dalam kegiatan gotong royong desa dan selalu jadi yang pertama datang saat ada warga membutuhkan bantuan, seperti membersihkan selokan atau memperbaiki jalan rusak.
Kedekatan ini tak lepas dari pendekatan humanis yang dijalankan TNI di wilayah teritorial. Komandan Kodim 1401 Majene pun mengapresiasi dedikasi Sertu Rahman. “Ini adalah contoh nyata bagaimana Babinsa menjadi jembatan antara TNI dan rakyat, bukan hanya sebagai aparat keamanan tetapi juga abdi masyarakat,” ujarnya dalam salah satu kesempatan. Di tengah kesibukan tugas, kehangatan seperti inilah yang membuat warga merasa diperhatikan, bukan hanya sebagai warga negara, tapi sebagai saudara.
Gotong Royong di Tengah Bencana: Ketika TNI Hadir Tanpa Pamrih
Suatu malam, desa yang tenang itu diguncang tanah longsor. Hujan deras mengguyur berjam-jam, dan tebing di belakang pemukiman mulai runtuh. Warga panik, berteriak saling memanggil. Di saat semua orang sibuk menyelamatkan diri, Sertu Rahman sudah berada di lokasi paling awal. Dengan senter seadanya, ia membantu evakuasi keluarga-keluarga yang terjebak. Ia menggendong anak kecil, menuntun warga lansia, dan memastikan semua orang aman ke tempat penampungan sementara. Tak peduli bajunya basah kuyup dan lumpur menempel di seragamnya, ia terus bekerja hingga fajar. Bagi warga, malam itu adalah bukti nyata bahwa kehadiran Babinsa di Majene, Sulawesi Barat, bukan sekadar rutinitas tugas, melainkan panggilan hati.
Kisah kedekatan ini mengajarkan kita bahwa program teritorial yang dijalankan TNI bukanlah sekadar seremonial belaka. Ia adalah nyawa yang hidup di tengah masyarakat, di setiap sapaan pagi, di setiap bantuan yang tulus, dan di setiap langkah yang menyatu dengan denyut kehidupan warga desa. Melalui sosok seperti Sertu Rahman, TNI menunjukkan bahwa abdi negara sejati adalah mereka yang hadir tak hanya saat dibutuhkan, tapi juga dalam suka dan duka. Semoga kehangatan seperti ini terus mengalir, menguatkan tali silaturahmi antara Babinsa dan warga, dan menjadi contoh bagi kita semua bahwa kebersamaan adalah kunci ketahanan sebuah desa.
Malam ini, saat warga Desa Bonda kembali beristirahat di rumah masing-masing, mereka tidak merasa sendiri. Ada sosok Sertu Rahman yang selalu siap sedia, ada senyum hangat yang menenangkan, dan ada harapan yang terus tumbuh di hati. Di sudut desa yang damai ini, kedekatan bukan sekadar kata—ia dijalani setiap hari, dengan sepeda ontel tua, dengan hati yang tulus, dan dengan semangat gotong royong yang tak pernah padam.