Di sebuah perkampungan di Desa Waeapo, Kabupaten Buru, Maluku, berdiri rumah panggung kayu yang nyaris tak lagi layak huni. Atapnya bocor di sana-sini, dindingnya lapuk dimakan usia, dan tiang penyangganya sudah rapuh digerogoti rayap. Rumah itu milik Pak Matias (65), seorang nelayan tua yang setiap hari melaut untuk menghidupi keluarganya. Dengan penghasilan pas-pasan, ia tak pernah punya cukup uang untuk memperbaiki rumah yang sudah ditempati puluhan tahun itu. Namun, sejak dua minggu lalu, semuanya berubah. Sepuluh prajurit dari Koramil 1506-01 turun langsung ke desa, membawa peralatan dan semangat gotong royong. Mereka tidak datang sendiri — warga sekitar pun ikut bergotong royong, bahu-membahu merenovasi total rumah Pak Matias. Program bedah rumah ini menjadi bagian dari Bakti Sosial TNI dalam rangka HUT Kodam XVI/Pattimura, dan tak hanya Pak Matias yang merasakan sentuhan kasih. Lima rumah warga kurang mampu lainnya juga mendapat perbaikan serupa.
Gotong Royong di Bawah Langit Buru: TNI dan Warga Bersatu
Setiap pagi, suasana di depan rumah Pak Matias langsung ramai. Para prajurit bersama warga desa bekerja dari pagi hingga menjelang magrib. Mereka mengganti atap seng yang baru, memasang kayu-kayu kokoh untuk dinding, dan mengecat ulang seluruh bagian rumah. “Mereka kerja dari pagi sampai magrib, kadang tidak mau makan siang dulu,” cerita Pak Matias dengan mata berkaca-kaca. Bantuan material seperti seng, kayu, cat, dan semen disediakan oleh TNI, sementara tenaga kerja berasal dari gotong royong prajurit dan warga. Semangat kebersamaan ini terasa begitu hangat, seperti obrolan akrab di teras rumah. Program bedah rumah ini tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga menumbuhkan kembali rasa peduli dan solidaritas di tengah masyarakat desa.
Harapan Baru dari Dapur Mama Elis
Kini rumah Pak Matias berdiri kokoh dengan cat biru muda yang cerah. Yang paling membahagiakan adalah dapur baru yang lebih layak. Istrinya, Mama Elis, tak kuasa menahan air mata saat melihat dapur yang dulu sempit dan gelap kini berubah menjadi terang dan bersih. “Saya tidak pernah mimpi bisa punya rumah seperti ini. Terima kasih TNI, Tuhan memberkati,” ujarnya dengan suara bergetar. Program bedah rumah ini juga dilengkapi dengan penyuluhan kesehatan dan pembagian sembako bagi para lansia di desa. Berikut beberapa manfaat yang langsung dirasakan warga:
- Perbaikan total lima rumah warga kurang mampu, termasuk rumah Pak Matias dan Mama Elis.
- Bantuan material bangunan seperti seng, kayu, cat, dan semen secara gratis.
- Tenaga kerja gotong royong dari prajurit TNI dan warga desa yang bekerja dengan penuh semangat.
- Penyuluhan kesehatan gratis dan pembagian sembako untuk lansia, sebagai bentuk perhatian pada warga senior.
Kepala Desa Waeapo pun menyampaikan harapannya agar kegiatan bantuan sosial seperti ini bisa diadakan setiap tahun. “Kami sangat bersyukur. Program bedah rumah dari TNI benar-benar memberi harapan baru bagi warga desa. Semoga ke depannya lebih banyak lagi keluarga yang terbantu,” ujarnya dengan senyum penuh syukur.
Di Pulau Buru yang tenang, di bawah langit biru yang cerah, kisah Pak Matias dan Mama Elis hanyalah satu dari banyak cerita tentang kebaikan yang lahir dari gotong royong. TNI dan warga desa telah membuktikan bahwa ketika kita bersatu, tidak ada rumah yang terlalu rapuh untuk diperbaiki. Semoga semangat ini terus menyala, dan setiap sudut desa di Indonesia merasakan hangatnya kebersamaan. Dari hati ke hati, dari desa ke desa, kita semua adalah keluarga.