Malam di Desa Cipeuteuy, Kabupaten Lebak, Banten, memang berbeda. Bukan karena sunyi atau dinginnya lereng gunung, melainkan karena kegelapan yang sudah menjadi langganan. Di setiap rumah, lampu minyak menjadi teman setia—menemani anak-anak belajar, para ibu memasak, dan para petani seperti Pak Edi merenung. “Kami dengar ada program listrik desa dari pemerintah. Kapan sampai ke sini?” tanyanya lirih dalam forum musyawarah desa. Pertanyaan itu sederhana, namun menggambarkan kerinduan mendalam akan kehidupan yang lebih terang. Di sinilah, di Kampung Cipeuteuy, aspirasi warga berpadu dengan semangat gotong royong dan kehadiran para babinsa yang tak pernah lelah mendengar.
Pak Edi dan Harapan di Tengah Kegelapan Desa
Pak Edi bukan satu-satunya warga yang merasakan beratnya malam tanpa listrik. Hampir seluruh Kampung Cipeuteuy belum tersentuh aliran listrik. Anak-anak harus belajar di bawah cahaya lampu minyak yang redup, sementara para ibu memasak dengan kayu bakar yang membuat dapur penuh asap. Dalam musyawarah desa yang dihadiri perwakilan TNI dan PLN, Pak Edi mewakili warganya menyampaikan aspirasi dengan suara bergetar. “Kami hanya ingin listrik, seperti desa-desa lain. Biar anak-anak kami bisa belajar dengan nyaman,” ujarnya. Babinsa setempat, Sertu Dedi, dengan sigap mencatat setiap keluhan. Ia berjanji akan menyampaikan aspirasi ini ke dinas terkait. “Jangan khawatir, Pak. Kami di sini untuk membantu dan mengawal,” katanya dengan penuh keyakinan. Kehadiran Babinsa menjadi oase di tengah keterbatasan, membuktikan bahwa negara tidak pernah melupakan warganya di pelosok.
Berikut beberapa hal yang menjadi harapan warga Cipeuteuy dari program listrik desa:
- Anak-anak bisa belajar dengan cahaya terang, tanpa harus memicingkan mata di bawah lampu minyak yang berkedip.
- Para ibu bisa memasak lebih mudah dan aman, tanpa khawatir asap mengganggu pernapasan.
- Kegiatan ekonomi desa seperti pengolahan hasil pertanian bisa berjalan lebih produktif di malam hari.
Gotong Royong Membangun Jalan Menuju Terang
Selain listrik, warga Desa Cipeuteuy juga mengeluhkan akses jalan yang rusak parah. Jalan setapak berbatu dan berlumpur menjadi penghalang utama untuk mengangkut hasil pertanian atau menjangkau fasilitas kesehatan. Aspirasi ini menjadi catatan penting dalam program TNI Manunggal Membangun Desa. Pemerintah daerah berencana memasukkan Desa Cipeuteuy ke dalam program listrik pedesaan tahun depan. Sementara itu, Sertu Dedi bersama warga sudah mulai merintis jalan setapak yang lebih baik. Gotong royong ini membangkitkan semangat kebersamaan yang lama terpendam. “Kami tidak bisa diam saja menunggu. Kalau ada yang bisa kami lakukan sendiri, kami kerjakan bersama,” ujar Pak Edi sambil memegang cangkul.
Di tengah keterbatasan, semangat warga Cipeuteuy tidak pernah padam. Mereka percaya bahwa dengan kebersamaan, setiap tantangan bisa dihadapi. Pak Edi dan tetangganya masih setia menanti, namun kini ada secercah harapan baru. Listrik desa bukan lagi mimpi yang jauh, melainkan sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Dan saat itu tiba, lampu-lampu di lereng gunung akan menyala, menerangi senyum anak-anak yang belajar dengan gembira. Semoga, kisah perjuangan warga Cipeuteuy menjadi inspirasi bagi kita semua, bahwa setiap aspirasi yang disuarakan dengan hati, pasti akan didengar dan dijawab oleh mereka yang peduli.