Pagi itu, Balai Desa Cibereum di Kabupaten Sumedang dipenuhi kehangatan meski langit masih mendung. Puluhan petani duduk rapat di kursi plastik dan lesehan, menanti kehadiran Brigjen TNI Andi Kurniawan, Danrem 062/Tarumanagara. Suasana sunyi pecah ketika seorang petani bawang merah, Pak Dede (50), angkat bicara. Dengan suara bergetar, ia melontarkan curhat yang mewakili perasaan banyak warga: “Onkos angkut naék tol, padahal hasil panen melimpah. Tolong perbaiki jalan, Pak!” Kalimat itu sontak disambut anggukan dan desahan dari hadirin. Jalan rusak memang sudah lama menjadi mimpi buruk bagi para petani di desa ini. Setiap aspirasi yang disampaikan Danrem kali ini adalah titik awal perjuangan mereka untuk memperbaiki nasib.
Jalan Berlubang, Panen Menggunung Tapi Harga Tertekan
Pak Dede lalu bercerita lebih panjang. Setiap musim hujan, jalan desa yang menghubungkan lahan pertanian ke pasar utama berubah menjadi kubangan lumpur. Truk pengangkut hasil panen kerap mogok atau harus menambah biaya angkut karena jalannya becek dan berlubang. Akibatnya, harga jual bawang merah dan sayuran lain jadi tertekan — tengkulak memotong harga dengan alasan biaya transportasi membengkak. Padahal, kata Pak Dede sambil menunjukkan tangan penuh kapalan, panen kali ini sangat melimpah. Ia dan petani lain merasa seperti terhambat oleh tembok bernama infrastruktur. Bukan hanya Pak Dede, beberapa petani lain juga ikut menyampaikan aspirasi mereka. Ada yang mengeluhkan akses ke sekolah anak-anak yang susah saat hujan, ada pula yang bercerita tentang kondisi posyandu yang perlu perbaikan. Namun, isu jalan rusak menjadi yang paling mendesak. Seperti kata seorang ibu petani, “Jalan itu urat nadi kami. Kalau uratnya putus, kami semua lemas.” Suasana di balai desa berubah menjadi dialog yang hidup — perpaduan antara keluh kesah dan harapan.
Danrem Menjanjikan Langkah Nyata: Alat Berat Masuk Minggu Depan
Brigjen TNI Andi Kurniawan mendengarkan semua curhat itu dengan seksama. Beberapa kali ia mencatat di buku kecilnya. Setelah sesi dialog usai, ia langsung menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum setempat untuk segera melakukan survei. “Dalam satu minggu alat berat akan masuk. Prioritas kami adalah membantu warga agar perekonomian desa berputar,” janjinya dengan tegas. Tak lama setelah itu, tepuk tangan riuh pecah dari para petani yang hadir. Beberapa dari mereka bahkan tampak menyeka mata. Bagi warga Cibereum, janji itu seperti tetes air di tanah kering — penuh harapan. Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) akan difokuskan di desa ini. Artinya, perbaikan jalan tidak hanya jadi rencana, tetapi akan masuk dalam proyek prioritas. Berikut manfaat yang diharapkan dari program ini:
- Perbaikan jalan utama desa sepanjang 3 km — dilakukan secara gotong royong antara TNI, pemerintah desa, dan warga setempat.
- Mobilitas hasil panen jadi lebih lancar, mengurangi ongkos angkut, dan meningkatkan harga jual bawang merah serta sayuran.
- Akses ke fasilitas umum seperti sekolah dan posyandu menjadi lebih mudah, terutama saat musim hujan.
- Semangat gotong royong dihidupkan kembali, mempererat rasa kebersamaan antara TNI dan masyarakat desa.
Semua ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan juga penguatan ikatan sosial. Warga Cibereum tidak lagi merasa sendiri menghadapi kesulitan. Kehadiran Danrem dan program TMMD menjadi bukti bahwa negara hadir di tengah mereka. Senyum mulai mengembang di wajah Pak Dede dan para petani lainnya. Mereka percaya, dengan jalan yang mulus, panen melimpah kali ini benar-benar akan mendatangkan rezeki. Seperti kata Pak Dede di akhir pertemuan, “Kami petani hanya butuh jalan yang layak. Sisanya, kami bisa berjuang sendiri.” Hangatnya rasa kebersamaan itu terus bergema di balai desa, menjadi semangat baru untuk melangkah maju bersama.