Minggu pagi di Desa Cemara, Lamongan, bukanlah pagi yang biasa. Udara segar khas pedesaan berpadu dengan semangat gotong royong yang terasa hangat. Di balai desa, puluhan warga berkumpul dengan segudang harapan. Mereka datang bukan sekadar untuk menghadiri acara, melainkan untuk menyuarakan isi hati. Acara bertajuk "Tanya Warga" yang difasilitasi oleh Koramil setempat menjadi ruang bagi warga untuk berbicara langsung — dari hati ke hati. Pak Karto, seorang tokoh masyarakat yang sudah sepuh, duduk di barisan depan. Dengan suara pelan namun tegas, ia mewakili suara yang selama ini terpendam: kebutuhan akan irigasi sawah yang lebih baik dan lampu jalan yang menerangi malam. “Kami ingin anak-anak bisa belajar malam tanpa gelap, juga petani ingin air lancar,” ujarnya dengan nada penuh harap. Suasananya begitu dekat, seperti obrolan di teras rumah sendiri, antara tetangga dan sahabat.
Suara Petani dan Ibu-Ibu: Lampu Jalan dan Irigasi Sawah
Aspirasi yang mengemuka dalam program Tanya Warga ini sangat konkret. Warga tidak meminta hal yang muluk-muluk, melainkan kebutuhan dasar yang menopang kehidupan mereka sehari-hari. Dari hasil pendataan oleh Babinsa dan perangkat desa, beberapa permintaan paling mendesak antara lain:
- Perbaikan irigasi sawah — saluran air yang sudah tua dan tersumbat membuat petani kesulitan mengairi lahan. Setiap musim kemarau, hasil panen terancam menurun drastis.
- Pemasangan lampu jalan — di beberapa dusun, jalan gelap gulita setelah magrib. Anak-anak kesulitan belajar, ibu-ibu khawatir saat bepergian malam, dan petani yang pulang dari sawah harus ekstra hati-hati.
- Bantuan bibit dan pupuk subsidi — warga juga berharap ada pendampingan dari pemerintah agar biaya produksi pertanian tidak membebani.
Suara-suara ini dicatat dengan saksama oleh TNI yang hadir. Setiap keluhan dan usulan diterima tanpa dipotong, karena mereka sadar bahwa mendengar adalah langkah pertama untuk membangun kepercayaan antara warga desa dengan pemerintah.
TNI: Bukan Sekadar Jaga Keamanan, Tapi Jembatan Aspirasi
Babinsa Serda Agus, yang akrab disapa Pak Agus, menjadi tokoh sentral dalam acara ini. Dengan seragam loreng yang rapi, ia duduk di tengah warga, bukan di panggung. “Kami tidak hanya menjaga keamanan, tapi juga menjadi jembatan antara warga dan pemerintah,” katanya. Program Tanya Warga ini memang dirancang untuk memperkuat komunikasi tiga pilar: TNI, pemerintah desa, dan masyarakat. Setiap aspirasi yang masuk akan segera diteruskan ke pemerintah daerah Lamongan. Pak Agus bahkan tak lupa mencatat nomor telepon warga untuk memastikan tindak lanjut bisa dikomunikasikan langsung. “Ini bukan sekadar acara seremonial. Kami ingin warga merasakan bahwa suara mereka benar-benar didengar,” tambahnya dengan senyum ramah. Kedekatan ini membuat warga merasa memiliki TNI sendiri di desa mereka.
Acara Tanya Warga diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Doa itu dipanjatkan bukan hanya untuk kelancaran pembangunan desa, tetapi juga untuk persatuan dan kedamaian. Setelah doa, sesi ramah tamah berlangsung hangat. Warga saling bercengkerama, menikmati suguhan kopi dan pisang goreng buatan ibu-ibu PKK. Pak Karto tampak tersenyum lega; harapannya mulai didengar. Di sudut balai, seorang ibu muda bercerita kepada Babinsa tentang anaknya yang ingin jadi tentara. Semua berbaur dalam kehangatan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Inilah bukti bahwa ketika TNI, pemerintah, dan warga desa duduk bersama, tidak ada jarak yang tak bisa didekati. Harapan pun tumbuh kembali — untuk sawah yang subur, malam yang terang, dan desa yang semakin erat dalam kebersamaan.