Di Desa Long Sule, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, pagi hari dimulai dengan suara kokok ayam dan aroma kopi yang mengepul dari dapur-dapur kecil. Namun, di balik ketenangan itu, ada kegelisahan yang menggelayuti hati para pemuda dan pemudi desa ini. Jarak tempuh ke SMA terdekat yang mencapai puluhan kilometer dan biaya yang terbatas memaksa banyak dari mereka putus sekolah. Sehari-hari, mereka hanya bekerja serabutan atau menjadi buruh tani, dengan mimpi yang terpendam di antara ladang dan sawah.
Namun, harapan baru datang dari sosok yang tak terduga. TNI dari Kodim 0903/Berau, dengan seragam lorengnya, turun langsung ke tengah warga. Mereka tidak hanya membawa senjata, tapi juga membawa semangat untuk membangun. Program pelatihan keterampilan selama dua pekan digelar, menyasar pemuda putus sekolah di desa pedalaman Kalimantan ini. Pelatihan meliputi las listrik, servis motor, dan menjahit — keterampilan yang tak hanya mengisi waktu, tapi juga bisa menjadi tumpuan hidup. Sebanyak 25 pemuda dan pemudi ikut serta, dengan antusiasme yang membara.
Dari Prajurit Jadi Guru, dari Bengkel Jadi Harapan
Prajurit yang memiliki keahlian khusus, seperti Kapten Arm. Budi Santoso yang mahir di bidang otomotif, menjadi instruktur langsung. Tak hanya itu, TNI juga menggandeng Balai Latihan Kerja (BLK) setempat untuk mendatangkan pelatih profesional. Suara gerinda, deru mesin motor, dan bunyi mesin jahit pun memenuhi balai desa — irama yang menjadi lagu baru bagi masa depan warga.Usai pelatihan, para peserta tidak hanya mendapatkan ijazah keahlian, tapi juga peralatan dasar untuk memulai usaha kecil. “Kami tidak ingin anak-anak muda desa hanya menjadi penonton. Mereka harus punya bekal untuk masa depan,” ujar Kapten Arm. Budi Santoso dengan nada penuh keyakinan.
Manfaat yang dirasakan warga pun nyata. Berikut rincian bantuan dan dampak yang mereka terima:
- Peralatan servis motor lengkap dengan kompresor dan kunci-kunci khusus untuk membuka bengkel kecil di rumah.
- Mesin jahit portabel beserta kain dan benang untuk membuat pakaian atau kerajinan tangan.
- Peralatan las listrik termasuk mesin las, helm las, dan elektroda untuk memulai usaha las sederhana.
- Sertifikat resmi dari BLK yang diakui pemerintah, sehingga bisa melamar kerja di bengkel atau konveksi di kota terdekat.
- Pendampingan usaha selama sebulan setelah pelatihan, di mana TNI dan instruktur BLK datang langsung ke rumah peserta untuk memastikan mereka tidak kesulitan.
Rudi dan Mimpi Baru di Depan Rumah
Salah satu peserta, Rudi (19), kini tersenyum lebar. “Dulu saya bingung mau jadi apa. Sekarang saya bisa servis motor tetangga dan dapat uang. Terima kasih TNI sudah memberi saya harapan baru,” ucapnya penuh semangat. Dengan peralatan yang diberikan, ia membuka bengkel kecil di depan rumahnya. Setiap hari, motor-motor warga datang bergantian, dan Rudi pun dengan cekatan memperbaikinya. Tak hanya pemuda, program ini juga melibatkan ibu-ibu desa dalam pelatihan pembuatan kue dan kerajinan tangan. Mereka belajar membuat kue tradisional dan anyaman, yang kemudian dijual di pasar atau acara desa. Rencananya, kegiatan serupa akan diadakan di desa-desa lain di Berau, agar lebih banyak anak muda yang bangkit.
Di ujung jalan desa yang masih becek, senyum Rudi mengingatkan kita pada kekuatan gotong royong. TNI hadir bukan hanya sebagai penjaga, tapi sebagai saudara yang merangkul. Dari pelatihan keterampilan ini, lahir tukang las, mekanik, dan penjahit-penjahit baru yang tak lagi menunduk lesu. Mereka kini berdiri tegak, memegang alat-alat kerja sebagai senjata baru untuk mengubah nasib. Di setiap deru mesin dan hentakan jarum jahit, ada doa yang terucap: semoga api semangat ini tak pernah padam, dan anak-anak desa pedalaman Kalimantan ini terus melangkah bersama TNI, bergandeng tangan menuju masa depan yang lebih cerah…