Suasana balai desa di Lombok pagi itu terasa berbeda. Bukan hanya karena gemericik hujan yang baru saja reda, melainkan karena tawa dan obrolan hangat puluhan warga yang berkumpul dengan mata berbinar. Mereka, para petani dan ibu-ibu rumah tangga, datang dengan satu harapan: belajar mengubah sesuatu yang selama ini dianggap tak berguna menjadi berkah. Inilah kisah tentang pelatihan sederhana yang membawa angin segar bagi kehidupan warga pelosok, digagas oleh saudara-saudara dari TNI yang dengan setia mendampingi.
Dari Tumpukan Sekam, Lahir Api Harapan Baru
Di tengah balai, Sertu Anton berdiri dengan senyum ramah, dikelilingi oleh tumpukan limbah pertanian yang akrab dengan keseharian warga: sekam padi, daun jagung kering, dan serbuk kayu. "Selama ini, limbah ini sering kita bakar begitu saja atau dibiarkan menumpuk," ujarnya dengan nada akrab, seolah sedang berbincang dengan tetangga dekat. "Padahal, kalau kita olah dengan cara yang benar, ia bisa jadi sumber energi yang baik. Bisa untuk masak, bisa untuk menghangatkan keluarga di kala hujan." Kalimat itu langsung menyentuh hati, terutama bagi Ibu Kadek dan ibu-ibu lain yang kerap merasakan beratnya biaya gas elpiji. Pelatihan ini bukan sekadar teori belaka; ia adalah jawaban atas keluh kesah yang mungkin sering terucap di warung kopi atau saat arisan desa.
Praktik Gotong Royong di Bimbingan Prajurit yang Sabar
Setelah mendengar penjelasan, warga pun diajak langsung turun tangan. Dengan penuh kesabaran, para prajurit membimbing langkah demi langkah: mulai dari mencampur bahan, mencetak, hingga mengeringkan briket. Suasana menjadi riuh rendah namun penuh keakraban. "Coba lihat, Bu. Perlahan seperti ini," bimbing seorang prajurit kepada seorang nenek yang tangannya bergetar. Ibu Kadek, dengan semangat, mencoba mencetak adonan briket pertamanya. "Ini benar-benar bisa menghemat pengeluaran untuk gas," ucapnya sambil tersenyum lebar, matanya berbinar penuh harap. Dalam kegiatan ini, terasa sekali nuansa kedekatan teritorial dan semangat gotong royong. Prajurit tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang peduli dan ingin melihat warga mandiri.
Manfaat dari pelatihan pembuatan briket ini ternyata sangat nyata bagi kehidupan warga desa. Beberapa di antaranya adalah:
- Penghematan biaya rumah tangga: Dengan memiliki bahan bakar alternatif, keluarga dapat mengurangi ketergantungan pada gas elpiji yang harganya kerap fluktuatif.
- Pemanfaatan potensi lokal: Limbah pertanian yang selama ini terbuang atau dibakar, kini memiliki nilai guna dan ekonomi, mendukung konsep zero waste di tingkat desa.
- Peningkatan kemandirian energi: Warga tidak lagi pasif terhadap kebutuhan energinya, tetapi mampu menciptakan solusi dari sumber daya yang ada di sekitar mereka.
- Mempererat tali silaturahmi: Kegiatan ini menjadi ajang berkumpul, berbagi ilmu, dan memperkuat kebersamaan antarwarga dan dengan para prajurit TNI.
Danpos setempat, dalam obrolan santai setelah pelatihan, menegaskan bahwa tujuan utama program ini bukan sekadar memberi ikan, tapi mengajarkan cara memancing. "Kami ingin warga mandiri dan mampu memanfaatkan setiap potensi lokal yang ada," katanya dengan penuh keyakinan. Kata-kata itu seperti pupuk bagi semangat warga yang telah lama menginginkan perubahan kecil yang berarti. Warga pun pulang bukan dengan tangan hampa, tetapi dengan ilmu yang bisa langsung dipraktikkan di rumah, sebuah bekal yang sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari mereka di pelosok.
Senja mulai menyapa ketika pelatihan usai. Warga beranjak pulang dengan membawa briket-briket hasil karya mereka sendiri, juga semangat baru yang terpancar di wajah-wajah mereka. Inilah keindahan dari sebuah program yang lahir dari kedekatan dan kepedulian. Bukan tentang teknologi canggih, melainkan tentang bagaimana memeluk erat potensi yang ada, lalu mengubahnya menjadi harapan. Briket dari limbah pertanian itu mungkin kecil bentuknya, namun api yang dihasilkannya mampu menghangatkan dapur, menghemat biaya, dan yang terpenting, menyulut semangat kemandirian dan kebersamaan di hati warga desa Lombok. Sebuah bukti bahwa dari hal yang sederhana, bisa lahir perubahan yang hangat dan berarti bagi kehidupan bersama.