Di pelosok Desa Uabau, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, matahari pagi tak pernah terasa ramah bagi Mama Maria. Seperti biasa, ia harus bangun sebelum ayam berkokok, menggayung ember plastik usang, dan berjalan kaki hampir tiga kilometer menuju sungai kecil yang airnya keruh. Debu beterbangan di sepanjang jalan setapak, sementara anak bungsunya menangis kehausan di gendongan. Cerita ini bukan hanya milik Mama Maria—hampir 200 kepala keluarga di desa tertinggal ini mengalami nasib yang sama. Air bersih, sesuatu yang mungkin kita anggap remeh, adalah harta paling mahal yang harus diperjuangkan setiap hari.
Perjuangan Panjang Warga Demi Setetes Air
Selama bertahun-tahun, warga Desa Uabau hanya mengandalkan satu mata air kecil yang sering mengering saat kemarau tiba. Anak-anak tak bisa mandi setiap hari, ibu-ibu harus mengantre berjam-jam, dan para petani kehilangan hasil panen karena kekeringan. "Dulu, setiap tetes air terasa seperti emas. Kami harus berhemat, apalagi kalau musim kering. Anak-anak sekolah pulang dengan baju kotor karena tak ada air untuk mencuci," kenang Bapak Yohanes, tetua adat setempat. Kehidupan di desa tertinggal ini memang tak mudah, tapi semangat gotong royong tetap membara di hati setiap warga.
TNI AD Hadir, Air Bersih Mengalir untuk 200 KK
Kisah pilu itu mulai berubah saat Prajurit TNI AD dari Kodim setempat datang dengan membawa alat berat dan semangat pantang menyerah. Tanpa banyak bicara, mereka langsung bekerja—mengebor tanah bebatuan hingga kedalaman puluhan meter. Hari itu, suasana desa berubah menjadi panggung haru: ketika air jernih pertama kali menyembur deras dari lubang sumur bor, warga yang menunggu sejak pagi langsung berteriak gembira. Mama Maria tak kuasa menahan air mata. "Ini berkah yang tak terkira. Anak-anak saya bisa mandi tanpa harus antre lama, dan saya tak perlu lagi menghabiskan separuh hari hanya untuk mengambil air," ucapnya sambil memeluk erat anaknya. Sumur bor itu kini menjadi sumber kehidupan baru yang menghidupi lebih dari 200 kepala keluarga.
Kehadiran sumur bor ini membawa perubahan nyata dalam keseharian warga. Berikut manfaat yang langsung dirasakan:
- Anak-anak bisa mandi dan bersih sebelum berangkat sekolah, meningkatkan semangat belajar mereka.
- Ibu-ibu tak lagi kelelahan berjalan jauh, waktu luang bisa digunakan untuk kegiatan produktif.
- Warga bisa menanam sayuran di pekarangan rumah karena air bersih tersedia setiap hari.
- Kesehatan meningkat drastis—penyakit kulit dan diare yang dulu sering terjadi kini mulai berkurang.
- Rasa kebersamaan dan gotong royong makin kuat saat warga bergantian menjaga dan merawat sumur bersama.
Cerita ini membuktikan bahwa kedekatan TNI dengan rakyat bukan sekadar slogan. Lewat sebuah sumur bor di desa tertinggal, air bersih mengalir sebagai simbol kepedulian yang nyata. Saat matahari sore mulai tenggelam di ufuk barat, Mama Maria dan anak-anaknya kini bisa tersenyum lepas. Mereka tak lagi takut kehausan, tak lagi harus berjalan jauh. Dan di sudut kecil Desa Uabau, semangat gotong royong terus hidup—karena air yang dulu terasa seperti emas, kini menjadi milik semua orang untuk bersama-sama menjaganya.