Di sebuah kampung kecil di Ransiki, Manokwari Selatan, hiruk-pikuk warga mulai terasa sejak pagi. Bukan karena pesta atau pasar, melainkan karena harapan baru yang kembali disemai lewat program TMMD ke-130. Di Lapangan Garuda, upacara pembukaan berlangsung sederhana namun penuh makna. Staf Ahli Bupati Anwar Mandacan memimpin jalannya acara, ditemani dentuman tifa tradisional yang menggema—seperti panggilan untuk bersatu. Bagi warga di pelosok Papua, momen ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah bukti nyata bahwa perhatian pada pembangunan dasar di daerah terpencil tidak pernah padam. Bukan lagi janji, melainkan aksi yang langsung menyentuh kebutuhan sehari-hari mereka.
Gotong Royong Bangun Kampung: TNI dan Pemda Bergandeng Tangan
Di balik kesederhanaan upacara, ada semangat gotong royong yang menggerakkan. Program TMMD ke-30 tidak hanya membawa rencana, tetapi juga kerja nyata. Pekerjaan fisik yang akan dilakukan sangat beragam, semuanya dirancang untuk memperbaiki kualitas hidup warga kampung. Mulai dari rehab rumah tidak layak huni, pembangunan MCK, pipanisasi air bersih, hingga pengecoran jalan sepanjang 250 meter. Setiap titik adalah denyut nadi kehidupan warga yang selama ini terhambat oleh keterbatasan infrastruktur.
- Rehabilitasi rumah yang sudah rapuh agar layak huni dan aman bagi keluarga.
- Pembangunan MCK agar warga bisa menjaga kebersihan dan kesehatan dengan lebih baik.
- Pipa air bersih yang mengalirkan sumber kehidupan langsung ke pekarangan rumah.
- Jalan cor beton sepanjang 250 meter yang akan memudahkan mobilitas dan membuka akses ekonomi.
Semua ini bukan hasil kerja sendiri. Kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat Manokwari Selatan menjadikan program ini milik bersama. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut bergotong royong mengangkat material, menyiapkan lahan, dan menyemangati satu sama lain. Inilah wajah pembangunan yang inklusif—di mana setiap lapisan masyarakat punya peran.
Bukan Sekadar Beton: Program Kemanusiaan yang Menyentuh Hati
Namun, TMMD ke-130 tidak hanya bicara soal infrastruktur. Ada sisi kemanusiaan yang tak kalah penting. Program non-fisik yang dijalankan juga dirancang untuk merawat kesehatan dan kesejahteraan warga. Di tengah keterbatasan akses ke layanan dasar, program ini menjadi oase di tengah padang gersang. Warga kampung yang jarang tersentuh layanan kesehatan kini bisa tersenyum karena pengobatan gratis hadir di depan mata.
- Pembagian sembako untuk meringankan beban dapur warga, terutama bagi keluarga kurang mampu.
- Pengobatan gratis yang menjangkau warga yang sulit mengakses puskesmas atau rumah sakit.
- Sosialisasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), agar warga tahu cara mencegah dan mengatasi jika terjadi bencana.
Program-program ini bukan sekadar formalitas. Setiap paket sembako, setiap pemeriksaan dokter, dan setiap materi sosialisasi adalah investasi untuk masa depan yang lebih sehat dan lebih sadar lingkungan. Warga yang sebelumnya cemas dengan biaya berobat kini bisa bernapas lega. Kehadiran tim medis dan relawan dari TNI dan Pemda seakan berkata, "Kamu tidak sendirian, kami ada di sini."
Pemukulan tifa di awal upacara seolah menjadi irama persatuan. Bunyi itu bukan sekadar bunyi, melainkan seruan agar semua elemen—TNI, pemerintah, dan masyarakat—terus bergandengan tangan. Bagi warga di pelosok Papua, TMMD adalah kabar gembira: bahwa mereka tidak dilupakan. Ada banyak tangan yang siap bekerja bersama, membangun dari hal paling dasar, hingga lahir masa depan yang lebih terang. Harapan itu kini tidak lagi sekadar mimpi, melainkan mulai terwujud pelan-pelan, satu paving block, satu tetes air bersih, dan satu senyuman pasien yang sembuh. Dan di setiap sudut kampung, semangat gotong royong itu terus berdenyut, mengingatkan kita semua: pembangunan sejati lahir dari kebersamaan.