Di sore yang tenang, saat mentari mulai perlahan tenggelam di ufuk barat Kampung Gunung Sangkaran, Way Kanan, Lampung, sekelompok warga duduk lesehan di bawah pohon rindang dekat balai desa. Suara gemericik air dari sungai kecil terdengar sayup, mengingatkan mereka pada satu hal yang sudah lama dinanti-nantikan: kehadiran program TMMD ke-130. Mata mereka berbinar, bukan sekadar karena kabar pembangunan, melainkan karena janji akan kehidupan yang lebih layak. Seorang ibu paruh baya, Mbak Sumi, mengusap peluh di dahinya sambil tersenyum. 'Semoga tahun ini kami tidak perlu lagi berjalan jauh ke sungai untuk mandi dan mencuci,' bisiknya lirih, penuh harap. Dari balik jendela rumah panggungnya, seorang bapak tua mengangguk setuju. Pembangunan yang direncanakan—jalan sepanjang 300 meter, sumur bor di lima titik, dan rehabilitasi fasilitas umum—adalah mimpi yang mulai mendekati kenyataan.
Jalan Mulus dan Air Jernih: Impian yang Tak Lagi Kabur
Bayangkan pagi hari di musim hujan, saat tanah becek dan bebatuan licin menghadang langkah anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah. Begitulah keseharian warga Gunung Sangkaran. Namun, kabar baik dari TMMD ke-130 membawa secercah terang. Pembangunan jalan sepanjang 300 meter akan menghubungkan perkampungan dengan jalan utama, membuka akses yang selama ini terhambat. Tak hanya itu, lima titik sumur bor akan ditancapkan—sebuah jawaban atas keluhan panjang tentang air bersih yang harus diambil dari sungai yang kerap keruh saat hujan. Berikut manfaat langsung yang akan dirasakan warga:
- Akses lebih mudah ke sawah, pasar, dan sekolah melalui jalan baru yang mulus.
- Lima sumur bor mengalirkan air bersih tanpa antre panjang di sungai.
- Rehabilitasi MCK dan tempat wudu masjid—fasilitas ibadah dan kebersihan jadi lebih layak dan nyaman.
Ini bukan sekadar proyek fisik. Ini tentang ibu-ibu yang bisa memasak tanpa khawatir air habis, tentang anak-anak yang pulang sekolah dengan seragam bersih, dan tentang para petani yang bisa mengangkut hasil panen tanpa terjebak lumpur. Pembangunan ini adalah simbol perhatian negara pada sudut-sudut desa yang sering terlupakan.
Gotong Royong di Setiap Sudut: TNI dan Rakyat Bersatu Padu
Di balik rencana megah itu, ada cerita yang lebih hangat: semangat gotong royong yang kembali hidup. Brigjen TNI Taufiq Shobri, yang memimpin persiapan di Way Kanan, tak henti-hentinya menekankan pentingnya peran warga. 'Masyarakat harus dilibatkan sejak perencanaan, bukan hanya sebagai penonton,' ujarnya dengan senyum ramah. Dan benar saja, para pemuda desa sudah mulai bergotong royong membersihkan lahan untuk sumur bor dan jalan. Para ibu sibuk menyiapkan konsumsi untuk para prajurit yang akan turun tangan. Suara tawa dan obrolan akrab terdengar di setiap sudut kampung—seolah tidak ada jarak antara seragam loreng dan kain sarung. Selain infrastruktur, TMMD ke-130 juga membawa misi penyuluhan yang tak kalah penting. Warga akan mendapat pelatihan tentang UMKM, pertanian modern, kesehatan keluarga, dan bahaya narkoba. Semua ini dirancang agar pembangunan tidak hanya bersifat fisik, tapi juga membekali warga dengan ilmu untuk masa depan yang lebih baik. Di setiap langkah, TNI dan rakyat berjalan beriringan, seperti keluarga besar yang saling bahu-membahu.
Dan saat malam tiba, di balik gemuruh mesin dan debu pembangunan, ada mimpi-mimpi kecil yang mulai bersemi. Mbak Sumi mungkin akan menghidangkan air minum dari sumur bor untuk keluarganya tanpa khawatir. Anak-anak akan berjalan di jalan mulus tanpa takut terpeleset. Para pemuda akan terus bergotong royong, karena mereka sadar, desa ini adalah rumah bersama. TMMD ke-130 bukan sekadar program—ini adalah pelukan hangat dari negara untuk setiap sudut desa di Way Kanan. Dan di bawah langit Lampung yang kelam, harapan itu bersinar terang, mengingatkan kita semua: pembangunan sejati lahir dari kebersamaan dan cinta pada tanah kelahiran.