Di ujung timur Indonesia, tepatnya di Pulau Gebe yang tenang dan dikelilingi birunya lautan Halmahera Tengah, ada cerita yang hangat mengalir. Bukan soal megahnya bangunan atau derasnya anggaran, melainkan tentang semangat gotong royong yang kembali menyala. Itulah yang terasa saat program TMMD ke-130 resmi dimulai. Wakil Bupati Ahlan Djumadil dengan tegas dan hangat mengingatkan, bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari kokohnya tembok dan atap, tetapi lebih dari itu — pada tumbuhnya rasa kebersamaan di antara warga. Di lima desa sasaran, seperti Sanaf Mamin dan Kacepi, nilai inilah yang akan menjadi benang merah, diuji dan dirawat bersama-sama.
Kebersamaan yang Membangun, Bukan Sekadar Beton
Program TMMD kali ini memang membawa sasaran fisik yang nyata dan langsung menyentuh kebutuhan pokok warga. Di antaranya:
- Membangun 5 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi keluarga yang selama ini tinggal di tempat seadanya.
- Menyediakan akses air bersih di 4 titik strategis, agar warga tidak lagi kesulitan saat musim kemarau.
- Membangun MCK umum untuk meningkatkan kebersihan dan kesehatan lingkungan.
- Menanam 250 bibit mangrove di pesisir, sebagai upaya menjaga alam pulau dari abrasi dan kian menghijau.
Setiap proyek itu adalah jawaban atas harapan yang mungkin sudah lama dipendam warga. Namun, seperti disampaikan Pak Wakil, yang lebih berharga adalah proses di balik angka-angka itu. Ketika 150 personel dari TNI, Polri, dan dinas terkait turun ke desa, mereka tidak sekadar membawa peralatan dan bahan bangunan. Mereka membawa semangat untuk berbagi, duduk bersama di beranda rumah warga, mendengar keluh kesah, dan bekerja bahu-membahu tanpa sekat.
Rumah Layak Huni, Hati yang Hangat
Salah satu program yang paling dinantikan adalah pembangunan RTLH. Di Pulau Gebe, masih banyak keluarga yang tinggal di rumah berdinding anyaman bambu dan beratap rumbia yang sudah usang. Melalui TMMD ke-130, 5 rumah baru akan berdiri kokoh. Bukan hanya sekadar tempat berteduh, tetapi juga simbol bahwa negara hadir dan peduli. Kegiatan nonfisik pun tak kalah penting: penyuluhan kesehatan, pengobatan massal, pasar murah, dan sosialisasi tentang stunting. Semua ini adalah bentuk perhatian yang mendalam pada kehidupan sehari-hari warga. Inilah inti dari 'kemanunggalan' — saat pembangunan tidak hanya meninggikan tembok, tapi juga mengangkat harkat dan martabat, serta merajut persatuan yang lebih erat di tengah masyarakat pesisir yang tangguh.
Warga pun menyambut dengan sukacita. Ibu-ibu di Sanaf Mamin bergotong royong menyiapkan makanan untuk para personel. Bapak-bapak dengan semangat ikut mengaduk semen dan memikul kayu. Anak-anak desa berlarian riang melihat alat berat mulai bekerja. Semua terasa seperti pesta kecil, yang merayakan bukan hanya bangunan baru, tetapi juga ikatan yang makin erat antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat. Di Pulau Gebe, TMMD bukanlah sekadar program kerja — ia adalah napas panjang kebersamaan yang tak akan lekang oleh waktu. Dengan hati yang hangat dan semangat yang terus menyala, warga desa dan semua yang terlibat percaya: pembangunan sejati lahir dari kebersamaan, bukan dari beton semata.