Di kampung Yetli, Pegunungan Bintang, malam-malam yang panjang tidak lagi hanya diisi oleh cerita rakyat dan gemerisik dedaunan. Dari balik honai, suara hati yang polos namun mendalam menggema—sebuah pertanyaan yang menjadi nafas bagi ratusan jiwa. 'Kapan cahaya listrik akan menerangi malam kami? Anak-anak butuh belajar, ibu-ibu butuh memasak dengan mudah,' ujar Kepala Suku Yohanes dalam sebuah dialog dengan Danpos setempat. Pertanyaan ini bukan sekadar tanya, melainkan sebuah aspirasi yang membara, mewakili warga yang masih bergantung pada pelita untuk menerangi kehidupan mereka di pegunungan yang sunyi ini.
Mendengar Suara Pelosok, Membangun Harapan
Danpos mendengarkan dengan saksama, mencatat setiap keluhan dan harapan yang terucap. Dalam obrolan akrab itu, ia tidak hanya menjawab dengan janji, tetapi juga dengan kejujuran tentang tantangan medan dan logistik yang terjal. 'Kami akan terus memperjuangkan dan menyampaikan suara Bapak-Ibu ke atas,' janjinya dengan penuh ketulusan. Kehadiran pos TNI di sini bukan hanya sebagai penjaga keamanan, melainkan sebagai jembatan yang mendekatkan program ke tengah warga. Mereka mendengar dengan penuh hormat, merangkul mimpi-mimpi kecil dari pelosok yang sering terlewatkan oleh gemerlap kota.
Listrik dari Matahari: Harapan Baru dari Balik Bukit
Danpos pun berbagi cerita tentang program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang sedang diusulkan untuk daerah terpencil. Cahaya dari matahari ini diharapkan bisa mengubah malam-malam gelap menjadi lebih terang. Beberapa manfaat yang akan dirasakan warga antara lain:
- Anak-anak bisa belajar di malam hari tanpa khawatir kehabisan minyak pelita.
- Ibu-ibu bisa memasak dengan lebih mudah dan aman, tanpa asap yang mengganggu pernapasan.
- Komunikasi dan informasi bisa lebih lancar, membuka pintu bagi kemajuan ekonomi desa.
Meskipun medan yang berat dan logistik yang rumit menjadi tantangan, namun semangat gotong royong warga setempat dan komitmen dari para prajurit membuat harapan ini semakin nyata. Setiap langkah kecil menuju listrik adalah langkah besar menuju kemandirian desa di pegunungan bintang ini.
Bagi warga Yetli, kehadiran pos TNI yang mau mendengar dan memperjuangkan kebutuhan dasar seperti listrik dan air bersih sudah seperti setengah jalan menuju terang. Mereka percaya bahwa suara dari pelosok ini tidak akan hilang diterjang angin gunung. Di setiap malam yang masih gelap, ada keyakinan bahwa esok akan lebih benderang. Kini, doa dan usaha bersama terus mengalun—menerangi jiwa, membangun desa, dan merajut kebersamaan yang tak terputus.