Di Desa Nembrala, Pulau Rote, NTT, malam hari selalu terasa panjang. Selama puluhan tahun, warga desa nelayan ini hanya bergantung pada lampu minyak yang temaram. Anak-anak belajar dengan mata perih, hasil tangkapan ikan cepat membusuk, dan roda ekonomi hanya berputar di siang hari. Namun, semua itu perlahan berubah ketika seorang warga melontarkan pertanyaan kepada Babinsa: 'Kapan desa kami dapat listrik, Pak?' Pertanyaan sederhana itu akhirnya menggerakkan sebuah program yang membawa terang ke ujung selatan Nusantara.
Cahaya dari Gotong Royong: TNI dan Warga Nembrala Bersatu Menyambut Listrik
Pertanyaan itu akhirnya mendapat jawaban nyata dari TNI Angkatan Laut (Lanal Rote). Bekerja sama dengan Kementerian ESDM dan sebuah LSM, mereka memasang sebanyak 200 unit solar panel berkapasitas 100 watt per rumah, menyasar 50 rumah tangga terlebih dahulu. "Ini jawaban langsung dari TNI atas aspirasi warga. Kami ingin desa ini terang benderang dan bisa lebih maju," ujar Mayor Laut (E) Andi Rahmat, Komandan Lanal Rote, dengan penuh semangat. Pemasangan dilakukan secara bergotong royong oleh tim gabungan yang terdiri dari prajurit TNI, teknisi, dan warga desa. Suasana kebersamaan terasa begitu hangat—ada yang mengangkat panel, memasang kabel, dan menyambungkan ke rumah-rumah. Program listrik desa ini benar-benar menjadi jawaban atas kerinduan warga yang selama puluhan tahun hidup dalam kegelapan. Dengan memanfaatkan energi terbarukan berupa solar panel, desa terpencil ini kini mulai merasakan kehadiran cahaya yang selama ini hanya mimpi.
Manfaat yang Terasa: Dari Belajar Malam hingga Ekonomi Bangkit
Ibu Maria (35), seorang ibu rumah tangga, tak bisa menyembunyikan haru saat melihat lampu mulai menyala di rumahnya. "Anak saya bisa belajar malam hari tanpa mengeluh mata perih. Sekarang kami juga bisa punya kulkas untuk ikan asin, bisa jual lebih mahal. Terima kasih banyak," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Manfaat program ini langsung terasa, antara lain:
- Anak-anak bisa belajar di malam hari dengan penerangan yang cukup, tanpa khawatir kesehatan mata.
- Ikan hasil tangkapan bisa disimpan dalam lemari pendingin sehingga tidak cepat busuk dan bisa dijual dengan harga lebih tinggi.
- Kegiatan ekonomi warga meningkat—warung kecil bisa buka hingga malam, dan peralatan elektronik sederhana bisa digunakan.
- Rasa aman dan kebersamaan warga bertambah karena desa tidak lagi gelap gulita setelah matahari terbenam.
Program pemasangan solar panel ini ditargetkan selesai dalam sebulan, dan TNI berencana melanjutkannya ke desa-desa lain di Pulau Rote. Kehadiran energi terbarukan ini menjadi bukti bahwa sinar terang tak hanya datang dari matahari, tapi juga dari kepedulian dan kerja sama kita semua. Desa Nembrala, yang dulu sunyi dalam gelap, kini mulai bersinar—setitik demi setitik, bersama-sama. Semoga cerita ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap pertanyaan warga, ada tangan-tangan yang siap mengulurkan bantuan. Dari listrik desa yang dulu hanya mimpi, kini menjadi nyata. Dan kita semua, dari Sabang sampai Merauke, bisa saling menjaga dan menerangi. Karena terang sejati lahir dari kebersamaan.