Pagi di Desa Gumantar, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, biasanya dimulai dengan suara burung dan embusan angin yang menyapu hamparan sawah. Namun, belakangan ini keheningan itu kerap diiringi kegelisahan. Pak Suryadi (50), ketua kelompok tani setempat, berdiri di pematang sawah yang mulai mengering. Matanya menatap saluran irigasi yang retak dan tersumbat—bekas luka gempa 2018 yang belum kunjung pulih. Dua musim tanam sudah gagal, tetapi semangat petani Lombok Utara tak pernah padam. Mereka memilih bersuara lewat forum “Tanya Warga”, sebuah program kedekatan teritorial yang difasilitasi oleh Babinsa setempat.
Di forum itulah, keluh kesah soal irigasi akhirnya didengar langsung oleh perwakilan DPRD Provinsi NTB. Aspirasi yang selama ini hanya mengendap di pematang sawah, kini mulai menemukan jalan menuju ruang perencanaan pembangunan daerah.
Tanya Warga: Jembatan Suara dari Pematang Sawah ke Gedung DPRD
Suasana di balai desa Gumantar sore itu terasa hangat. Puluhan petani duduk melingkar; ada yang membawa topi anyaman, ada pula yang masih menenteng cangkul. Babinsa Sertu Edi membuka forum dengan sapaan akrab, lalu memberi kesempatan kepada warga untuk menyampaikan isi hati mereka. “Kami sudah dua musim tanam gagal karena air hanya mengalir setengah. Harapan kami, pemerintah segera rehab irigasi,” ujar Pak Suryadi, suaranya pelan namun penuh harap.
Aspirasi petani Lombok Utara itu dicatat oleh anggota DPRD yang hadir. Bagi warga desa, forum seperti ini bukan sekadar formalitas; ini bukti bahwa negara hadir di tengah kesulitan mereka. Babinsa Sertu Edi pun berjanji akan terus mendampingi. “Ini suara warga, kami dampingi hingga ke DPRD,” tegasnya, disambut tepuk tangan para petani.
Gotong Royong Menanti Irigasi Pulih: Sawah yang Rindu Kembali Hijau
Musyawarah di forum itu menghasilkan sebuah kesepakatan yang menghangatkan hati. Pemerintah daerah melalui DPRD NTB berencana mengajukan anggaran perbaikan irigasi untuk tahun 2027. Meskipun masih beberapa tahun ke depan, langkah ini dianggap sebagai awal yang baik. Para petani tidak hanya diam; mereka juga berkomitmen untuk menjaga saluran yang ada sembari menunggu realisasi.
Kehadiran forum Tanya Warga memberikan secercah harapan bagi petani yang selama ini merasa terabaikan. Melalui program ini, berbagai permasalahan desa bisa diangkat ke permukaan, terutama soal infrastruktur pertanian yang sangat vital. Bagi petani Lombok Utara, di mana sawah adalah sumber kehidupan, irigasi adalah urat nadi yang harus terus mengalir. Tanpa perbaikan saluran, mereka harus merasakan pahitnya gagal panen berkali-kali. Namun, dengan adanya saluran komunikasi langsung ke DPRD NTB, mereka kini punya keyakinan bahwa pemerintah daerah benar-benar peduli.
Beberapa manfaat yang diharapkan dari perbaikan irigasi ini antara lain:
- Pasokan air yang stabil untuk sawah sepanjang musim tanam, sehingga petani tak lagi cemas menghadapi kemarau.
- Peningkatan hasil panen, yang berarti pendapatan keluarga petani bisa lebih baik dan kebutuhan pangan desa tercukupi.
- Terbukanya lapangan kerja di sektor pertanian, karena sawah yang subur akan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja.
Semangat gotong royong terus menyala di antara para petani. Mereka sadar, perubahan tidak bisa datang sendiri. Dengan saling bahu-membahu menjaga saluran irigasi, menyampaikan aspirasi lewat Tanya Warga, dan mendukung program pemerintah, mereka sedang menanam harapan untuk masa depan yang lebih baik. Sawah yang hari ini kering, kelak akan kembali hijau; hati yang hari ini gelisah, kelak akan dipenuhi rasa syukur. Karena di desa ini, tidak ada perjuangan yang sendirian—selalu ada tangan yang terulur, selalu ada suara yang didengar.