Di pelosok Desa Sukaresmi, Kecamatan Cibaliung, Pandeglang – Banten, kemarau panjang sudah tiga bulan membuat sumur-sumur warga mulai mengering. Setiap pagi, warga harus berjalan jauh ke mata air yang tersisa, antre berjam-jam hanya untuk mendapatkan satu jerigen air bersih. Suara letih dan harap bercampur jadi satu, seperti yang dirasakan Pak Jajang (45), seorang petani di dusun paling ujung. Melalui rubrik Tanya Warga, ia curhat langsung ke TNI: “Kami berharap ada bantuan tangki air dari Koramil setempat, karena desa kami pelosok dan sulit dijangkau truk PDAM.” Bukan sekadar keluhan, itu isi hati warga yang haus akan uluran tangan.
Saat Kemarau Panjang, Warga Desa Sukaresmi Berjuang Demi Air Bersih
Kekeringan di desa ini bukan hanya soal haus, tapi juga soal pekerjaan, sekolah, dan kesehatan. Anak-anak terpaksa bolos sekolah karena harus membantu orang tua mencari air. Ibu-ibu kesulitan memasak dan mencuci. Pak Jajang sendiri harus mengorbankan waktu mengurus sawahnya untuk mengangkut air dari sumur tetangga yang masih tersisa. Lewat rubrik Tanya Warga, aspirasi warga mengalir deras, meminta perhatian instansi terdekat. Setiap tetes keringat mereka adalah harapan yang tak pernah padam, meski langit masih enggan menurunkan hujan. Mereka sadar, air bersih bukan sekadar kebutuhan, tapi sumber kehidupan yang menghidupi seluruh sendi desa.
TNI Datang Membantu: Bukan Sekadar Air, Tapi Harapan Baru
Mendengar itu, Dandim 0611 Pandeglang, Letkol Inf Edi Sutrisno, langsung tanggap. Dalam waktu dua hari, janji bantuan tangki air pun tiba, disambut haru dan suka cita warga. Bantuan tangki air bersih dari Koramil langsung disalurkan ke titik-titik krisis di desa, memastikan warga tak perlu lagi berjalan jauh dan antre lama. Lebih dari itu, TNI bersama masyarakat merancang program jangka panjang: pembangunan bak penampungan air hujan. Letkol Inf Edi Sutrisno menegaskan bahwa keberadaan TNI bukan sekadar mengatasi darurat, tapi membangun kedekatan teritorial yang nyata. “Kami ingin desa ini punya cadangan air bersih meski musim kemarau,” ujarnya saat penyerahan bantuan. Manfaat program ini bisa dirasakan langsung oleh warga:
- Tak perlu lagi berjalan jauh ke mata air yang tersisa – air bersih mengalir tepat di desa mereka.
- Anak-anak bisa kembali sekolah tanpa khawatir harus membantu mencari air setiap pagi.
- Ibu-ibu bisa memasak dan mencuci dengan tenang, tanpa cemas kekurangan air bersih.
- Pak Jajang dan petani lain bisa fokus mengurus sawah, karena kebutuhan air rumah tangga sudah terjamin.
Warga pun bahu-membahu menyiapkan lahan dan material. Pak Jajang yang tadinya cemas, kini ikut mengangkut batu bata untuk pondasi bak penampungan. “Terima kasih sudah mendengar kami. Ini bukan sekadar air, ini harapan baru buat kami,” katanya dengan mata berkaca-kaca. Di balik setiap tetes air yang jatuh dari tangki, ada cerita tentang kebersamaan yang tumbuh di tengah kekeringan. Warga Desa Sukaresmi kini tidak lagi merasa berjuang sendiri. TNI hadir bukan sebagai aparat, tapi sebagai saudara yang siap bahu-membahu. Program pembangunan bak air hujan bukan hanya soal infrastruktur, tapi simbol bahwa di desa terpencil pun, suara warga berarti. Dan ketika hujan turun nanti, air yang tertampung akan menjadi bukti bahwa gotong royong dan kepedulian bisa mengubah segalanya. Semoga kehangatan ini terus menyala, dan setiap desa di pelosok negeri merasakan hal yang sama.