Sore itu, di Desa Tellu Boccoe, Kabupaten Bone, suasananya beda. Bukan karena ada acara besar, tapi karena kehadiran Sertu Darwis, Babinsa setempat, yang duduk santai di tengah warga. Ia datang bukan dengan seragam lengkap dan sikap formal, melainkan seperti tetangga yang mampir sambil membawa cerita. Mereka duduk di teras rumah salah satu warga, menikmati angin sore yang sepoi-sepoi. Obrolan pun mengalir hangat—dari soal harga gabah, kondisi jalan setapak, hingga rencana gotong royong minggu depan. Di sinilah pintu silaturahmi terbuka lebar, tanpa sekat antara prajurit dan rakyat.
Obrolan Santai, Hati yang Terbuka
Sertu Darwis tak hanya datang sebagai petugas yang menyampaikan pesan. Ia hadir untuk mendengar. Dalam obrolan ringan itu, warga bercerita tentang segala hal: hasil panen yang kurang maksimal karena cuaca, anak-anak yang butuh perhatian lebih dalam belajar, hingga kekhawatiran tentang keamanan lingkungan. Babinsa ini mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk, menimpali dengan tawa atau nasihat sederhana. Bagi warga Desa Tellu Boccoe, kehadiran Babinsa seperti Sertu Darwis adalah pengingat bahwa mereka tak sendiri. Ada TNI yang peduli dan mau duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Inilah esensi komunikasi sosial yang sesungguhnya: bukan sekadar menyampaikan informasi, tapi membangun kedekatan hati.
Komunikasi Sosial: Jembatan Kedekatan TNI dan Rakyat
Program komunikasi sosial yang dijalankan Babinsa di Bone ini punya dampak yang besar, meski caranya sederhana. Lewat obrolan santai seperti itu, banyak hal baik lahir:
- Mendengar langsung keluh kesah warga — Babinsa jadi tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, dari masalah pertanian hingga kerukunan antar tetangga.
- Mencari solusi bersama — Setiap tantangan dihadapi secara gotong royong, bukan dengan perintah, melainkan dengan musyawarah.
- Menjaga keamanan dan ketertiban — Warga lebih percaya diri melapor jika ada hal mencurigakan, karena merasa dekat dengan Babinsa.
- Menumbuhkan semangat gotong royong — Rencana kerja bakti atau kegiatan desa jadi lebih mudah digerakkan karena hubungan yang hangat sudah terjalin.
Tak ada jarak antara seragam loreng dan pakaian tani. Semua duduk satu lingkaran, berbagi cerita dan saling menguatkan. Di sinilah letak kekuatan program teritorial TNI yang sebenarnya.
Bagi warga Desa Tellu Boccoe, obrolan sore bersama Sertu Darwis bukan sekadar basa-basi. Itu adalah jembatan silaturahmi yang membuat desa terasa lebih aman, rukun, dan penuh kebersamaan. Mereka percaya, selama ada Babinsa yang mau mendengar dan hadir seperti saudara, desa ini akan terus tumbuh dalam harmoni. Semoga semangat komunikasi sosial yang tulus ini terus menyala di setiap sudut negeri, merajut kedekatan yang tak lekang oleh waktu.