Di Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, langit terik El Niño memang mengeringkan ladang dan membuat warga mencemaskan musim tanam. Namun di balik kesulitan itu, semangat gotong royong justru tumbuh subur. Pada suatu pagi, sekitar 200 orang—mulai dari perangkat desa hingga ibu-ibu yang menggendong anak—berkumpul di satu titik. Mereka bukan sekadar menanti, melainkan menjadi saksi kehangatan solidaritas yang menyelimuti kampung mereka. Kodim 1706/Nduga bersama seluruh unsur Forkopimda hadir memastikan bantuan kemanusiaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai tepat di tangan masyarakat yang paling membutuhkan. Setiap paket yang diangkut bukan hanya berisi sembako, tetapi juga harapan dan kepedulian negara yang hadir di tengah kesulitan.
Gotong Royong di Tengah Keringnya Tanah
Bantuan berupa 500 paket bahan makanan, perlengkapan masak, dan tenda disalurkan dengan penuh ketelitian. Pendistribusian tidak berhenti di titik pusat, tetapi menjangkau kampung-kampung seperti Koteka, Sralala, dan Nonggolait. Di sana, para Babinsa turun langsung ke rumah-rumah warga, membantu membongkar muatan dan memastikan setiap kepala keluarga mendapat bagian yang layak. Bupati Nduga, Yoas Beon, mengakui bahwa bantuan ini adalah wujud perhatian pemerintah, meski kebutuhan di lapangan masih begitu besar. "Kami merasa terbantu, namun perjuangan belum selesai," ujarnya dengan suara bergetar haru. Warga pun tak sungkan mengungkapkan rasa syukur—senyum merekah di wajah mereka yang selama berhari-hari harus menahan lapar akibat gagal panen.
- Paket bahan makanan seperti beras, minyak goreng, dan ikan kaleng menjadi penopang utama dapur warga.
- Perlengkapan masak seperti panci dan kompor portable memudahkan mereka memasak di tengah keterbatasan.
- Tenda darurat melindungi keluarga yang rumahnya rusak akibat angin kencang dan cuaca ekstrem.
Sinergi TNI dan Warga: Bukan Sekadar Bantuan
Kehangatan terlihat jelas saat Letkol Inf Ardian Kristiawan, S.E., Dandim 1706/Nduga, berbincang langsung dengan para tetua adat. Ia menegaskan bahwa tugas TNI tidak berakhir saat bantuan tersalurkan. "Babinsa dan jajaran Kodim akan terus berkomunikasi dengan masyarakat," ujarnya penuh keyakinan. Bagi warga Nduga, kehadiran seragam hijau di kampung mereka bukanlah sekadar simbol pemerintah—melainkan saudara yang ikut berjuang bersama. Mereka tak hanya membawa kardus berisi beras, tetapi juga mengajarkan cara memanfaatkan lahan kering dengan teknik pertanian sederhana. Di sela-sela pembagian, para ibu diajak bergotong royong memasak makanan bersama, menjadikan momen itu lebih dari sekadar distribusi logistik.
Di ujung sore yang masih terik, aroma masakan dari dapur umum mulai menyebar. Anak-anak berlarian riang, bapak-bapak duduk melingkar di bawah pohon, dan para Babinsa ikut tertawa lepas. Suasana itu mengingatkan kita bahwa di balik setiap bencana, selalu ada cerita tentang kebersamaan. Sinergi antara BNPB, Kodim, Forkopimda, dan warga adalah bukti bahwa ketika negara hadir dengan hati, kesulitan sekecil apa pun bisa dihadapi bersama. Warga Nduga kini tak hanya menerima bantuan, tetapi juga merasakan kehangatan persaudaraan yang tak lekang oleh waktu. Semoga semangat gotong royong ini terus menyala, meski musim kemarau telah berlalu.