Di bawah langit pegunungan Nduga yang cerah, Kampung Mileu mendadak ramai pada Rabu lalu. Bukan karena pesta rakyat, melainkan kedatangan wajah-wajah bersahabat dari Satgas Pamtas Koops TNI Habema. Mereka datang bukan cuma untuk patroli menjaga ketertiban, tapi juga membawa tas berisi obat-obatan dan stetoskop. Di sela-sela pemantauan keamanan, tim kesehatan satgas membuka ‘klinik darurat’ sederhana. Senyum-senyum malu-malu dari lima belas warga pun merekah saat mereka diperiksa dan mendapatkan pelayanan kesehatan gratis. Bagi warga pedalaman Papua seperti mereka, kunjungan ini bagai oase di tengah keterbatasan akses.
Klinik Darurat di Tengah Pegunungan: Tak Kenal Bahasa, Hanya Peduli
Meski terkendala bahasa—karena tak semua warga lancar berbahasa Indonesia—kehangatan tak berkurang sedikitpun. Dengan bantuan pendamping lokal yang sabar menerjemahkan setiap keluhan, para prajurit bisa memahami dengan tepat sakit yang diderita warga. Mulai dari batuk-batuk, demam, hingga pegal-pegal karena berjalan jauh. Kapten Inf Sutarman, Pasi Intel Satgas, dengan lembut menjelaskan, “Kendala bahasa tak boleh jadi penghalang kami untuk hadir dan membantu.” Kata-katanya itu seperti balsem yang menenangkan hati warga yang selama ini merasa terisolasi di pelosok Papua.
- Pemeriksaan tekanan darah dan keluhan fisik lainnya dilakukan dengan penuh kesabaran.
- Obat-obatan dasar seperti parasetamol, vitamin, dan salep luka dibagikan secara cuma-cuma.
- Warga yang memerlukan perawatan lebih lanjut diberikan rujukan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Bukan Sekadar Patroli, Tapi Hadir untuk Hati dan Kesehatan
Aksi kemanusiaan ini tak berhenti di klinik darurat. Seusai memeriksa warga, para prajurit juga membersihkan lingkungan honai kosong untuk memastikan keamanan. Gotong royong itu jadi simbol bahwa mereka hadir bukan hanya sebagai penjaga, melainkan juga sebagai saudara. Pulangnya prajurit ke Pos TK Kuyawage meninggalkan rasa lega dan haru di hati warga. Mereka tidak hanya merasa lebih sehat, tetapi juga merasa diperhatikan dan dilindungi. Seperti diungkapkan Letkol Inf Dedy Risdiantoro, “Kegiatan berbasis kemanusiaan seperti ini akan terus berlanjut untuk mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan kualitas hidup saudara-saudara kita di pelosok Papua.”
Di malam yang mulai merambat, Kampung Mileu kembali sunyi, tetapi ada kehangatan yang mengendap di setiap dada warga. Mereka sadar, di balik seragam militer, ada hati yang peduli pada kesehatan dan kesejahteraan mereka. Senyum sehat warga Kuyawage bukan sekadar hasil obat, melainkan buah dari kehadiran yang tulus. Semoga langkah kecil ini terus mengukir harapan di setiap desa di pedalaman Papua.