Pagi itu, kabut tipis masih betah bergelayut di atas perkampungan Mileu, Kabupaten Nduga. Suara langkah para prajurit Satgas Yonif 742/SWY terdengar pelan, bukan karena ragu, melainkan karena mereka ingin merasakan denyut kehidupan warga yang masih lengket dengan alam. Di balik tugas patroli keamanan yang melekat di seragam loreng mereka, ada misi lain yang sama pentingnya: menyapa, mendengar, dan berbagi. Di sela kewaspadaan, mereka singgah di rumah-rumah panggung sederhana, membuka kotak obat, dan menggelar pengobatan gratis bagi siapa pun yang membutuhkan. Inilah wajah binter yang tak melulu soal angka dan laporan, tapi tentang kehangatan yang lahir dari langkah kaki yang menyentuh tanah warga.
Satu Plastik Obat, Sejuta Senyum di Tanah Nduga
Hari itu, sebanyak 15 warga—dari nenek-nenek yang punggungnya mulai membungkuk hingga anak kecil yang pipinya merah karena malu—datang silih berganti. Ada yang mengeluh sakit kaki yang sudah lama tak tertangani, ada pula yang sekadar ingin diperiksa tekanan darahnya. Meski sebagian warga belum fasih berbahasa Indonesia, kehadiran pendamping lokal menjadi jembatan hangat yang mencairkan suasana. Setiap kali obat diberikan, terpancar senyum lega dari wajah-wajah yang letih. Bantuan kecil ini bukan soal besarnya nilai, tetapi soal kepedulian yang tulus. Di tanah Nduga yang keras, satu plastik obat berisi pil demam dan salep luka menjelma menjadi sejuta makna: makna bahwa negara tak melupakan mereka.
Kegiatan ini terasa sangat membantu warga yang selama ini sulit menjangkau layanan kesehatan karena jarak dan biaya. Beberapa hal yang langsung dirasakan manfaatnya oleh warga Mileu antara lain:
- Obat gratis untuk sakit kaki, demam, dan batuk yang selama ini sulit didapat.
- Pemeriksaan kesehatan sederhana yang membuat warga lebih tenang dan sadar akan kondisi tubuhnya.
- Kehadiran pendamping lokal yang mencairkan suasana dan menjembatani bahasa, sehingga setiap keluhan tersampaikan dengan nyaman.
- Rasa aman dan dekat dengan TNI yang semakin kuat setiap harinya, mengubah citra patroli dari sekadar penjaga menjadi sahabat.
Komsos dan Binter: Lebih Dekat dari Sekadar Seragam
Di balik seragam loreng, prajurit itu adalah tetangga, sahabat, dan saudara. Melalui komsos yang santai dan tulus, mereka mendengar keluh kesah warga sambil sesekali melontarkan canda yang mengundang tawa renyah. Inilah bentuk nyata binter atau pembinaan teritorial yang humanis. Bagi prajurit di garis depan, memastikan kesehatan warga sama pentingnya dengan menjaga keamanan wilayah. Mereka tidak datang sebagai penguasa, melainkan sebagai pelayan yang ingin hadir di tengah keterbatasan.
Di tanah Nduga yang kerap diterpa keterbatasan, sentuhan kemanusiaan seperti inilah yang menguatkan ikatan antara TNI dan rakyat. Bukan hanya soal mengawal perbatasan, tapi tentang bagaimana sebuah langkah kecil—dari patroli, pengobatan gratis, hingga komsos—bisa menjadi sejuta makna. Seperti kata seorang warga tua sambil memegang erat plastik obat, “Terima kasih, Nak. Tuhan memberkati.” Dan di sore hari, ketika matahari mulai tenggelam di balik bukit, para prajurit melanjutkan patroli dengan hati yang penuh—karena mereka tahu, setiap senyum warga adalah pengingat bahwa di mana pun mereka berada, mereka adalah bagian dari keluarga besar Indonesia.