Di Dusun Mekar Sari, Desa Kawite-wite, Kecamatan Kabawo, Kabupaten Muna, mentari pagi menyapa deretan rumah panggung yang mulai rapuh dimakan usia. Dua di antaranya, milik Pak Rudi dan Ibu Siti, nyaris tak layak huni — dinding miring, atap bocor, dan lantai papan yang sudah lapuk. Tapi hari ini, suasana berubah. Bukan karena harta datang tiba-tiba, melainkan karena kehadiran Satgas TMMD ke-130 Kodim 1416/Muna yang turun langsung bahu-membahu bersama warga merehabilitasi rumah mereka. Suara palu dan gergaji berpadu dengan tawa dan obrolan akrab, mengubah kerja keras menjadi kebersamaan yang hangat.
Gotong Royong di Tengah Suara Palu dan Senyum Warga
Sejak pagi, personel TNI sudah membaur dengan warga desa. Mereka mengangkut kayu balok, memotong papan, dan memperbaiki setiap sudut rumah yang rusak. Pak Rudi, yang biasanya hanya bisa pasrah melihat tembok rumahnya miring, kini ikut memegang palu dengan mata berkaca-kaca. "Saya tidak menyangka ada bantuan begini. Rasanya seperti punya keluarga baru," ujarnya lirih. Dansatgas TMMD, Letkol Inf Farid Heru Puryanto, menjelaskan bahwa program ini adalah wujud nyata kepedulian TNI terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya mengentaskan rumah tidak layak huni (RTLH). "Bukan sekadar membangun, tapi yang utama membangun kebersamaan. Kami ingin prajurit merasakan langsung denyut nadi kehidupan warga pelosok," katanya dengan senyum lebar.
Proses rehab ini bukan pekerjaan instan. Mereka harus mengganti tiang penyangga yang keropos, menambal atap dengan seng baru, dan memperkuat dinding. Namun semangat gotong royong membuat semua terasa ringan. Warga bergantian menyuguhkan kopi dan pisang goreng, sementara anak-anak kecil berlarian di sekitar lokasi, menjadikan suasana seperti kerja bakti keluarga besar. Kehangatan ini mengingatkan bahwa di balik seragam loreng, prajurit TNI adalah saudara sebangsa yang siap membantu kapan pun dibutuhkan.
Manfaat Nyata untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Apa yang dirasakan keluarga Pak Rudi dan Ibu Siti? Setidaknya ada beberapa manfaat langsung yang mereka terima:
- Rumah yang lebih aman dan nyaman — atap baru tidak bocor saat hujan, dinding kokoh melindungi dari angin, dan lantai tidak lagi rapuh.
- Peningkatan kualitas hidup — anak-anak bisa belajar dengan tenang tanpa khawatir atap ambruk, dan orang tua tidur lebih nyenyak.
- Rasa memiliki dan kebersamaan — warga desa ikut terlibat, menumbuhkan solidaritas dan gotong royong yang mungkin sempat pudar.
- Bukti kepedulian negara — TNI hadir tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga mengatasi kesulitan sehari-hari rakyat, dari kota hingga pelosok desa.
Harapan besar pun mengemuka. Program rehabilitasi rumah layak huni (RTLH) seperti ini diharapkan bisa berlanjut, menjangkau lebih banyak keluarga yang masih tinggal di bawah standar. Bagi Pak Rudi, perbaikan rumah ini adalah awal baru. "Dulu saya malu kalau ada tamu, sekarang sudah bisa tersenyum. Terima kasih TNI, terima kasih warga," ucapnya terbata-bata. Letkol Farid menambahkan, "Ini adalah investasi kemanusiaan. Ketika rakyat merasa diperhatikan, maka tali persaudaraan semakin kuat. Itulah esensi TMMD."
Di sore hari menjelang senja, rumah-rumah itu mulai tampak berbeda. Cat baru belum ada, tapi sinar kehangatan sudah terpancar dari setiap sudut. Warga desa dan prajurit duduk bersama di teras, menikmati angin sore sambil bercerita. Mungkin hanya sebuah rumah, tetapi di baliknya ada cerita tentang persaudaraan, gotong royong, dan harapan yang terus menyala. Semoga semangat ini terus mengalir, tidak hanya di Desa Kawite-wite, tapi di seluruh pelosok negeri. Karena di mana ada kebersamaan, di situ ada rumah yang benar-benar layak huni.