Pagi itu di Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, udara dingin khas Papua seakan hangat oleh senyum dan tawa anak-anak. Bukan suasana rumah sakit biasa, melainkan riuh rendah kebahagiaan. Ada rombongan nenek-nenek yang berjalan tertatih ditemani cucu, ada bapak-bapak dengan anak lelakinya yang gugup namun bersemangat. Mereka semua berkumpul bukan karena sakit, melainkan untuk merasakan bakti kesehatan gratis dari TNI dalam rangka HUT ke-81. Sebuah anugerah yang menyentuh langsung kehidupan warga desa.
Khitan Massal dan Operasi Katarak: Dua Kebaikan yang Menyentuh Hati
Kodam XVII/Cenderawasih memilih cara yang dekat dengan keseharian warga Papua. Khitanan massal dan operasi katarak gratis digelar sebagai wujud nyata kepedulian. Bagi anak-anak di pelosok, khitan bukan sekadar ritual agama, tetapi langkah awal menuju hidup bersih dan sehat. Namun biaya sering menjadi penghalang. Kini, 17 anak telah merasakan manfaatnya, tanpa perlu menguras tabungan orang tua. Sementara itu, 15 pasien katarak—kebanyakan berusia lanjut—kembali mendapat kesempatan melihat dunia dengan jelas. Operasi katarak yang mahal dan sulit diakses kini tersedia gratis, membuat mereka bisa kembali memandang wajah cucu-cucu tersayang.
Pangdam Hadir Langsung: Bukan Sekadar Seremonial
Kehadiran Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang, bukanlah sekadar seremoni. Beliau berkeliling, menepuk pundak anak-anak yang habis dikhitan, berbincang dengan para lansia yang menanti giliran operasi. Beliau ingin memastikan sendiri bahwa pelayanan berjalan baik, bahwa setiap warga mendapat perhatian. Seperti yang beliau katakan, “TNI lahir dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.” Falsafah ini bukan sekadar slogan, melainkan napas setiap program bakti. Saat masyarakat Papua kesulitan mengakses layanan kesehatan, TNI hadir sebagai saudara, memberi tanpa pamrih.
Berbagai manfaat langsung dirasakan oleh warga yang hadir, antara lain:
- Khitan gratis bagi 17 anak, lengkap dengan perawatan pasca-tindakan.
- Operasi katarak gratis untuk 15 pasien lanjut usia, mengembalikan penglihatan yang sempat kabur.
- Pendampingan medis yang ramah, membuat pasien merasa nyaman dan tenang.
- Obat-obatan dan vitamin gratis untuk mempercepat pemulihan.
- Suasana kekeluargaan yang hangat antara TNI dan masyarakat, menghilangkan sekat prajurit dan rakyat.
Bagi seorang anak di Papua, khitanan yang mudah dan aman adalah awal dari kehidupan yang sehat, bebas dari risiko infeksi. Bagi seorang nenek atau kakek, melihat kembali dengan jelas adalah anugerah yang tak ternilai. Mereka bisa kembali mengenali wajah anak dan cucu, bisa berjalan tanpa takut tersandung. Program ini seolah memberi mereka usia baru—usia di mana cahaya matahari kembali menerangi hari-hari mereka.
Di akhir acara, Pangdam dan seluruh jajaran mengajak warga untuk terus menjaga kesehatan dan saling bergotong royong. Kebaikan yang sudah dirasakan hari ini diharapkan menjadi pemantik semangat kebersamaan. Sebab, TNI dan rakyat adalah satu keluarga. Di desa-desa pelosok Papua, kepedulian seperti ini bukan sekadar program, melainkan bukti bahwa negara hadir, bahwa persaudaraan tak pernah padam.