Matahari di Kampung Ninggea, Nduga, terasa makin garang. Kekeringan panjang yang tak kunjung usai membuat tanah-tanah perkebunan berhenti menghijau dan sebagian warga mulai cemas menghadapi hari-hari yang sulit. Namun di tengah situasi itu, langkah tenang para prajurit Satgas Yonif 742/SWY justru menjadi secercah kesejukan. Mereka datang bukan dengan senjata yang menimbulkan ketakutan, melainkan dengan sapa, senyum, dan telinga yang hangat untuk mendengar keluh kesah warga.
Obrolan Hangat di Honai-Honai, Warga Bercerita Tentang Musim yang Sulit
Begitu memastikan keamanan di sekitar kampung, para prajurit menyambangi honai-honai warga. Di sana, suasana mencair dalam dialog yang penuh keakraban. Para sesepuh dan ibu-ibu dengan terbuka menyampaikan isi hati mereka. Tanaman kebun yang tadinya menjadi harapan kini banyak yang rusak karena kekeringan, persediaan bahan pangan di rumah-rumah semakin menipis, dan kekhawatiran tentang masa depan semakin membayang. Dalam suasana yang tidak mudah ini, warga berharap bantuan logistik dari pemerintah dapat didistribusikan secara merata sampai alam kembali bersahabat dengan mereka. Aspirasi mereka bukan sekadar keluhan, melainkan harapan agar negara tetap hadir di tengah kesulitan.
Obrolan ini bukan sekadar basa-basi. Para prajurit mencatat setiap cerita yang disampaikan warga. Menurut Lettu Inf Sahli, Dan TK Ninggiyagin, kunjungan ini adalah bentuk kedekatan teritorial yang sesungguhnya. “Kami hadir sebagai saudara yang siap mendengar, merasakan, dan membantu kesulitan rakyat,” ujarnya dengan penuh keteduhan. Melalui ruang dialog ini, warga dapat menyampaikan aspirasi mereka langsung, bukan kepada tembok birokrasi yang dingin, melainkan kepada insan-insan yang bersedia duduk dan bercerita bersama mereka.
Sentuhan Kesehatan di Tengah Kekeringan yang Menguras Tenaga
Tak hanya mendengar cerita, para prajurit juga menghadirkan pelayanan kesehatan yang dinanti-nantikan. Tenaga kesehatan Satgas, Pratu Sultan Ade, dengan sabar memeriksa tekanan darah warga yang datang berkelompok. Beberapa jenis vitamin pun dibagikan agar daya tahan tubuh warga tetap terjaga di musim yang keras ini. Yang paling mengharukan, perhatian khusus diberikan kepada seorang anak perempuan bernama Tefria Telenggen yang menderita infeksi bisul. Dengan lembut, luka itu dibersihkan, dirawat, dan diberi obat agar Tefria bisa kembali tertawa riang bersama teman-temannya. Ini bukan sekadar bantuan medis, melainkan bentuk kasih sayang yang nyata.
Berbagai bentuk kehadiran prajurit Satgas Yonif 742/SWY di Kampung Ninggea yang meringankan beban warga antara lain:
- Mendengarkan langsung keluh kesah dan harapan warga yang terdampak kekeringan
- Memberikan pemeriksaan kesehatan seperti cek tekanan darah oleh tenaga kesehatan
- Membagikan vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh warga
- Merawat dan mengobati Tefria Telenggen yang mengalami infeksi bisul
- Menjembatani aspirasi warga mengenai pendistribusian bantuan logistik agar lebih merata
Di sela-sela itu, terlihat bagaimana senyum warga kembali muncul meskipun wajah mereka masih diselimuti rasa cemas. Kehadiran para prajurit memberi semacam kekuatan: bahwa mereka tidak berjalan sendirian, bahwa negara masih hadir dalam wujud yang paling sederhana—sebagai saudara yang mau duduk, mendengar, dan merawat. Di tengah terik kekeringan, kehangatan persaudaraan inilah yang membuat hati warga Ninggea tetap segar. Semoga langkah kecil ini menjadi pengingat bahwa kita semua, siapapun kita, bisa menjadi pelita bagi sesama.