Di pelosok Kampung Tuali, Kabupaten Keerom, Papua, hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari berbaur dengan semilir angin perbatasan RI-PNG. Di sana, di antara hamparan hijau dan langit biru yang luas, ada satu mimpi yang perlahan menjadi nyata: sebuah rumah ibadah yang layak untuk warga. Bukan sekadar bangunan, Rumah Ibadah St. Toberias adalah bukti nyata bahwa kedamaian tak melulu soal jaga batas negara, melainkan tentang kepedulian dan gotong royong yang lahir dari hati. Prajurit Satgas Yonif 121/Macan Kumbang dan warga setempat bahu-membahu, menyatukan keringat dan doa, untuk mewujudkan tempat beribadah yang selama ini diidam-idamkan.
Dari Seragam Loreng hingga Kain Tenun: Satu Tekad Membangun Rumah Doa
Pagi itu, Rabu (2/9), suasana Kampung Tuali terasa berbeda. Bukan suara patroli atau latihan yang terdengar, melainkan gelak tawa dan hempasan palu yang berirama. Para prajurit, yang sehari-hari berjaga di garis terdepan, melepas helm dan senjata mereka, lalu berganti dengan kaos oblong dan topi anyaman. Bersama warga, mereka mengangkat kayu, mencampur semen, dan menata batu bata. Tidak ada sekat antara seragam loreng dan kain tenun—semua adalah saudara yang satu tekad. “Kami di sini bukan sekadar penjaga, tapi bagian dari keluarga,” ujar salah satu prajurit sambil menyeka peluh. Kebersamaan ini mengingatkan pada pepatah lama: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Proyek pembangunan ini memang sederhana, tapi maknanya begitu dalam. Berikut adalah hal-hal yang membuat kegiatan ini istimewa bagi warga:
- Tempat Ibadah Layak: Sebelumnya, warga harus beribadah di tempat yang kurang memadai. Kini, Rumah Ibadah St. Toberias menjadi simbol penghormatan terhadap keyakinan di tanah perbatasan Papua.
- Kedekatan TNI dan Rakyat: Prajurit tak hanya hadir sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai tetangga yang peduli dan mau turun tangan langsung dalam setiap pembangunan.
- Gotong Royong yang Hangat: Setiap paku yang dipalu dan setiap sudut yang diplester adalah hasil kerja sama yang menguatkan ikatan sosial di kampung ini.
Ketika Doa Menyatukan Seragam dan Kain Tenun
Saat bangunan itu mulai berdiri kokoh, tibalah momen yang paling dinantikan: ibadah bersama di tempat yang mereka bangun sendiri. Di dalam ruangan sederhana yang masih berbau cat dan kayu segar, prajurit dan warga duduk berdampingan. Suara doa bergema, tidak memandang seragam atau latar belakang. Momen ini adalah jembatan yang menghubungkan hati—prajurit yang biasanya waspada kini bersimpuh dengan khusyuk, dan warga yang mungkin awalnya canggung kini tersenyum hangat. Seorang ibu tua bercerita, “Anak saya senang lihat bapak-bapak TNI ikut bangun gereja. Katanya, ini bukti kalau kita semua bersaudara.” Di perbatasan yang sering dianggap keras, cerita seperti ini adalah bukti bahwa kedamaian sejati tumbuh dari saling menghormati.
Kampung Tuali kini tidak hanya dikenal sebagai titik jaga batas negara, tetapi juga sebagai tempat di mana kebersamaan dirayakan. Prajurit Satgas Yonif 121/Macan Kumbang telah berubah dari sekadar penjaga menjadi bagian dari keluarga besar yang turut membangun kehidupan. Dengan rumah ibadah yang berdiri megah, warga punya tempat untuk bersyukur dan berdoa bersama. Semoga semangat gotong royong ini terus menyala, dan kedamaian yang dibangun dari hati akan selalu mengiringi langkah warga Kampung Tuali. Karena, pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah tembok yang kokoh, melainkan kasih yang mengisi setiap celahnya.