Pagi itu, matahari belum sepenuhnya naik di Desa Cikidang, Sukabumi. Namun, halaman markas Koramil setempat sudah dipenuhi senyum dan sapaan hangat. Bukan hari Jumat biasa — ini adalah momen yang ditunggu-tunggu. Sebanyak 500 paket sembako dari program Jumat Berkah siap dibagikan kepada para lansia dan anak yatim. Bantuan sosial (bansos) dari TNI ini hadir seperti oase di tengah harga kebutuhan yang terus merangkak naik.
Jumat Berkah: Bukan Sekadar Bagi-bagi, tapi Juga Ngobrol dan Doa
Program Jumat Berkah ini digagas langsung oleh Danramil Kapten Andi bersama para Babinsa. Mereka tidak sekadar datang, membagikan, lalu pergi. Mereka duduk lesehan, ngobrol akrab, mendengarkan keluh kesah warga, bahkan mendoakan. "Alhamdulillah, semoga TNI selalu diberkahi," ucap Ibu Siti (70) dengan mata berkaca-kaca. Perempuan itu mengaku sudah tiga bulan tidak membeli minyak goreng karena harganya mahal. Hari itu, di pangkuannya ada beras, minyak goreng, gula, dan telur — barang yang terasa sangat berharga di tengah kesulitan.
Setiap paket sembako yang dibagikan berisi kebutuhan pokok yang sangat berarti bagi warga:
- Beras 5 kg
- Minyak goreng 1 liter
- Gula pasir 1 kg
- Telur 1 kg
Paket-paket itu disalurkan kepada 500 orang lansia dan anak yatim di Desa Cikidang, dengan melibatkan karang taruna desa.
Gotong Royong yang Menghangatkan Hati
Yang membuat program Jumat Berkah ini terasa begitu hangat adalah keterlibatan karang taruna desa. Mereka turun tangan membantu penyortiran, pengepakan, hingga pendistribusian. Suasana di markas Koramil pagi itu riuh rendah oleh tawa dan canda — seolah bukan acara resmi, melainkan kumpul keluarga besar. Para Babinsa pun tak segan memanggul karung beras atau mengantar langsung paket ke rumah warga yang tak bisa datang. "Kami ingin hadir bukan sebagai petugas, tapi sebagai saudara," ujar Kapten Andi.
Ibu Siti, yang rumahnya di ujung desa, bercerita bahwa ia sudah lama tidak menerima kunjungan seperti ini. "Biasanya cuma lewat, sekarang diajak ngobrol, ditanya kabar, didoakan. Senang rasanya," katanya. Ada pula Mbah Jaja yang lumpuh, dan Yanti, bocah yatim piatu yang tinggal bersama neneknya. Mereka semua merasakan sentuhan hangat dari program Jumat Berkah ini.
Di luar dugaan, program yang awalnya sekadar berbagi ini justru menjadi pengingat bahwa masih banyak kebaikan di tengah kesulitan. Bansos dari TNI tidak hanya mengisi perut, tapi juga mengisi hati. Warga pun mulai bergotong royong menyiapkan konsumsi untuk para relawan, saling membantu menata paket, dan saling mendoakan. Semua itu membuktikan: di Desa Cikidang, Jumat Berkah bukan sekadar agenda, melainkan hari ketika kebersamaan benar-benar terasa. Semoga semangat ini terus menyala dan menguatkan kita semua.