Pagi itu, mentari perlahan menyinari Kampung Sarawandori di Kepulauan Yapen. Suara burung dan derik ranting seolah menjadi pengiring langkah warga yang mulai berkumpul di balai kampung. Hari itu bukan pagi biasa—ada semangat baru yang mengalir dari kehadiran para prajurit Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 909/KRP. Mereka datang membawa program JELITA, singkatan dari Jejak Lingkungan Tangguh dan Sehat. Program yang digelar Jumat, 2 Oktober 2026 ini adalah jawaban atas keresahan warga akan ancaman penyakit seperti malaria dan demam berdarah yang kerap muncul saat musim pancaroba.
Penyuluhan Akrab di Balai Kampung: Ilmu Kesehatan untuk Semua
Suasana balai kampung berubah hangat saat tim kesehatan Yonif TP 909/KRP memulai penyuluhan. Bukan dengan bahasa kaku atau istilah rumit, mereka bercerita seperti teman sesama warga. Lettu Ckm dr. Agung Rahmat Priwardana, Dokter Yonif, dengan sabar menjelaskan pentingnya hidup bersih, menjaga saluran air, dan memberantas sarang nyamuk. Warga pun duduk berdampingan dengan prajurit, tanpa jarak. Mereka saling bertanya, berbagi pengalaman, dan tertawa bersama. Penyuluhan ini bukan sekadar ceramah, melainkan obrolan akrab yang menanamkan kesadaran bahwa kesehatan lingkungan adalah benteng utama keluarga. Ibu-ibu yang biasa sibuk di dapur pun ikut antusias memberi masukan soal genangan air di sekitar rumah. Semua merasa dihargai dan didengar.
Beberapa warga mengaku baru paham bahwa nyamuk demam berdarah suka berkembang biak di air bersih yang menggenang. Dengan gaya ringan, para prajurit juga mengajak warga melakukan praktik sederhana: menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas. “Ternyata gampang, Pak. Saya kira harus pakai obat-obatan mahal,” ujar Pak Markus, salah satu tetua kampung, sambil tersenyum. Program JELITA memang dirancang untuk menjadi pemantik semangat warga Sarawandori agar bisa menjaga kebersihan secara mandiri.
Gotong Royong Fogging: Membersihkan Lingkungan, Melindungi Keluarga
Usai penyuluhan, suasana semakin hidup. Para prajurit bersama perangkat kampung dan warga bergotong royong menyisir setiap sudut permukiman. Parit-parit, genangan air, dan halaman-halaman rumah disemprot dengan pengasapan (fogging) untuk memutus rantai hidup nyamuk. Fogging dilakukan secara merata, dari ujung kampung hingga ke pelosok yang jarang tersentuh. Lettu Ckm dr. Agung Rahmat Priwardana menegaskan bahwa tindakan ini bukan sekadar membunuh nyamuk dewasa, tetapi juga mengedukasi warga agar terus waspada. “Mencegah lebih baik daripada mengobati,” katanya di sela kegiatan.
Warga tampak antusias membantu membawa alat semprot dan menunjukkan titik-titik yang sering menjadi sarang nyamuk. Anak-anak pun ikut berlarian, meski tetap diingatkan untuk menjauh saat proses pengasapan. Kebersamaan ini menunjukkan bahwa program JELITA benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari warga kampung.
- Manfaat Program JELITA bagi Warga Sarawandori:
- Meningkatkan kesadaran warga tentang pentingnya kesehatan lingkungan.
- Memberikan pengetahuan praktis mengelola lingkungan sekitar agar bebas sarang nyamuk.
- Melakukan fogging secara menyeluruh untuk menekan risiko ancaman penyakit.
- Menjalin kedekatan antara prajurit dan warga melalui penyuluhan yang hangat dan interaktif.
- Menumbuhkan semangat gotong royong dan kemandirian dalam menjaga kebersihan kampung.
Setelah semua sudut kampung tersisir, para prajurit dan warga berkumpul lagi sambil menikmati segelas air kelapa muda yang disediakan ibu-ibu. Tawa dan cerita mengalir seperti air sungai yang jernih. Program JELITA bukan hanya tentang kesehatan dan lingkungan, melainkan tentang ikatan yang tumbuh di antara mereka yang peduli. Satu langkah kecil hari ini menyisakan jejak besar untuk masa depan. Warga Sarawandori kini bukan hanya punya ilmunya, tapi juga semangat untuk menjaganya. Bersama, mereka bertekad menjadikan kampung ini tangguh dalam kesehatan, dan kuat dalam kebersamaan. Karena di balik setiap prajurit yang mengabdi, di balik setiap warga yang bersatu, ada harapan untuk generasi Papua yang lebih sehat dan ceria.