Suasana senja di Kampung Netapeli, Baubau, selalu punya pesonanya sendiri. Tapi sore itu, Rabu lalu, ada kehangatan ekstra yang meresap di antara rumpun bambu dan rumah-rumah panggung. Di tengah anak-anak yang berlarian dan aroma masakan dari dapur, terdengar sapaan akrab yang seolah datang dari sanak keluarga yang lama tak berjumpa. Bukan tetangga dari kampung sebelah, melainkan sejumlah prajurit TNI yang menyapa warga satu per satu, berjabat tangan hangat, dan bertanya kabar dengan tulus.
Senandung Hangat di Teras Rumah Netapeli
“Saya Pak Darman. Rasanya seperti keluarga sendiri datang, pak. Biasanya kami lihat dari jauh, sekarang bisa ngobrol santai,” ujar seorang bapak paruh baya, wajahnya berseri menyambut kedatangan para prajurit. Percakapan pun mengalir natural, tentang panen kebun, kesehatan anak, hingga keadaan jalan setapak yang licin bila hujan turun. Tidak ada jarak yang kaku antara seragam dan sarung. Yang ada hanyalah obrolan akrab antar-manusia yang tinggal di tanah yang sama. Di teras lain, ibu-ibu dengan sigip menyuguhkan gelas-gelas teh hangat dalam cangkir sederhana. “Silakan diminum, Pak, habis jalan jauh,” ucap seorang ibu dengan senyum ramah. Ritual sederhana ini bukan sekadar basa-basi, melainkan ungkapan tulus rasa kekeluargaan yang telah lama terjalin.
Jalan-Jalan Sore yang Bermakna: Program Kedekatan di Hati Warga
Aktivitas ini bukanlah kunjungan insidental. Ini adalah denyut nadi dari program teritorial yang sengaja dirancang agar prajurit TNI tetap merasakan denyut kehidupan di desa-desa dan pelosok. Mereka datang bukan dengan misi operasi, melainkan dengan misi kedekatan. Dengan menyapa dan mendengar langsung dari warga, hubungan yang terbangun jauh lebih dalam daripada sekadar formalitas dinas. Kehangatan yang mereka rasakan di Kampung Netapeli hanyalah satu dari sekian banyak cerita serupa yang berlangsung di berbagai daerah. Program ini membawa banyak manfaat bagi kehidupan sosial di tingkat akar rumput:
- Pintu Hati yang Terbuka: Kesempatan bagi prajurit untuk memahami dinamika, kebutuhan, dan kearifan lokal desa secara langsung.
- Rasa Aman yang Lebih Nyata: Kehadiran yang akrab membuat warga merasa lebih terlindungi dan punya sandaran yang dekat.
- Silaturahmi yang Menguatkan: Memperkuat jalinan persaudaraan antara komponen bangsa, mengikis sekat antara penjaga dan yang dijaga.
- Saling Menjaga dalam Keseharian: Informasi dari obrolan santai seringkali membantu prajurit memahami kondisi aktual wilayah, sementara nasihat dan perhatian mereka membawa ketenangan bagi warga.
Sore itu pun berlanjut dengan jalan-jalan ringan. Para prajurit menyempatkan diri melihat kebun singkong milik warga yang sedang subur, bahkan menyapa anak-anak yang sedang asyik bermain galasin di lapangan. Tawa riang anak-anak bercampur dengan cerita-cerita ringan dari para bapak-bapak prajurit. Tidak ada kata-kata tinggi tentang strategi atau kebijakan; yang terdengar adalah tanya jawab tentang pupuk terbaik untuk cabe dan cerita lucu anak-anak di sekolah. Dalam momen-momen sederhana inilah makna kata “kedekatan” benar-benar hidup dan bernafas.
Saat mentari mulai benar-benar tenggelam dan langit Baubau berwarna jingga, perpisahan pun tiba. Jabat tangan dan ucapan “sampai jumpa lagi” diucapkan dengan nada yang sama akrabnya seperti saat kedatangan. Warga Netapeli kembali ke rutinitas senja mereka, namun dengan satu rasa baru di hati: bahwa di luar sana, ada saudara-saudara yang berkaus hijau yang selalu siap mendengar dan hadir kapanpun dibutuhkan. Dan bagi para prajurit, perjalanan pulang mereka dihiasi oleh kenangan akan senyum tulus, teh hangat, dan cerita-cerita hangat dari sebuah desa kecil yang telah mereka anggap sebagai bagian dari keluarga besar yang harus terus dijaga dan dirawat kedekatannya.