Hangatnya matahari pagi di Desa Kerta Mukti, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat, bukan sekadar menyinari hamparan sawah yang mulai mengering. Di sana, suara cangkul dan gelak tawa bercampur menjadi satu irama. Puluhan warga desa, tanpa sungkan, bergandengan tangan bersama prajurit TNI dari Koramil setempat. Mereka bukan lagi sekadar petani dan tentara, melainkan saudara satu tanah air yang bahu-membahu membangun saluran irigasi sepanjang 1,5 kilometer. Batu-batu besar diangkat, pasir dipikul, dan tanah dicangkul dengan semangat yang tak pernah padam. Seragam loreng dan baju tani lusuh menyatu, menghapus sekat perbedaan. Inilah potret gotong royong yang sesungguhnya—sebuah tradisi yang terus hidup di hati warga desa.
Gotong Royong: Jembatan Antara Seragam dan Baju Tani
Komandan Koramil setempat, dengan suara berwibawa namun ramah, menjelaskan bahwa irigasi ini sangat vital bagi lahan persawahan yang selama ini sering merana saat musim kemarau. “Setiap tetes air adalah nyawa bagi padi kami,” ujarnya sambil mengarahkan para prajurit. Para petani yang hadir tak hanya jadi penonton; mereka ikut mengarahkan titik-titik saluran yang sesuai dengan kontur lahan. Pak Karto, seorang petani berusia 55 tahun, tampak tak kalah bersemangat. “Gotong royong adalah budaya kita. Dengan bersama, semua terasa ringan,” katanya sambil mengusap keringat di dahinya. Semangat ini menular ke semua yang hadir, membuat pekerjaan seberat apapun terasa ringan.
- Manfaat irigasi baru: Sawah-sawah yang sebelumnya kering kerontang kini mulai dialiri air bersih, mengubah tanah gersang menjadi ladang harapan.
- Kerja sama lintas sektor: TNI tidak hanya membangun fisik, tetapi juga memperkuat tali silaturahmi dengan warga, menciptakan harmoni yang langgeng.
- Dampak ekonomi langsung: Dengan irigasi yang baik, petani bisa menanam dua hingga tiga kali setahun, meningkatkan pendapatan keluarga.
Air Mengalir, Harapan Tumbuh di Setiap Petak Sawah
Hasil kerja keras mereka mulai terlihat setelah pekan pertama. Aliran air jernih perlahan mengisi petak-petak sawah yang sebelumnya retak-retak kehausan. Warga berterima kasih dengan tulus atas uluran tangan TNI. “Kami tak bisa bayar dengan uang, tapi kami bisa bayar dengan doa dan semangat menjaga hasil ini,” kata Ibu Sumi, seorang petani perempuan yang ikut memikul karung pasir. Kehangatan terasa di setiap sudut desa, seolah irigasi ini bukan sekadar saluran air, melainkan aliran kebersamaan yang menyuburkan jiwa.
Kisah di Desa Kerta Mukti ini mengajarkan kita bahwa gotong royong bukanlah masa lalu. Ia adalah denyut nadi kehidupan desa yang terus berdetak. Di tengah kesibukan dunia modern, masih ada tempat di mana seragam dan baju tani bersatu, di mana air dan harapan mengalir bersama. Semoga semangat ini terus menyala, tidak hanya di Lampung Barat, tetapi di seluruh pelosok negeri. Karena saat kita bersama, tidak ada sawah yang terlalu kering, tidak ada beban yang terlalu berat. Selamat untuk Desa Kerta Mukti dan para pahlawan tanpa tanda jasa di sana—teruslah bergotong royong, karena dari situlah kekuatan kita lahir.