Di sebuah pos perbatasan di Entikong, Kalimantan Barat, suasana maghrib terasa berbeda dari biasanya. Di teras pos yang sederhana, belasan anak-anak duduk rapi dengan Al-Qur'an kecil di pangkuan. Mereka membaca ayat demi ayat, sesekali berhenti lalu dibimbing ulang oleh Serda Adi Saputra, anggota TNI yang bertugas di Pos Gabma Entikong. Lantunan suara mereka berbaur dengan semilir angin sore, seolah memberi kehangatan di tengah dinginnya tanah perbatasan. Anak-anak itu datang dari rumah-rumah panggung di sekitar desa, ada yang berjalan kaki tanpa alas, ada pula yang digendong kakaknya. Begitu tiba, mereka menyebut salam, lalu duduk melingkar menunggu giliran belajar.
Maghrib yang Hangat Bersama Bapak Asuh di Perbatasan
Setiap sore, seusai bertugas, Adi mengajar mengaji dan membantu mengerjakan PR sekolah kepada 15 anak yatim dan kurang mampu yang tinggal di sekitar pos. Yang semula hanya iseng membantu seorang nenek yang kesusahan mengurus cucunya, kini berubah menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu anak-anak. Tak jarang, setelah belajar mengaji, mereka menyerbu Adi untuk bertanya tentang soal matematika atau membaca buku pelajaran. Adi melayani satu per satu dengan sabar. "Mereka ini masa depan bangsa. Kalau bukan kami yang peduli, siapa lagi?" ujarnya sambil tersenyum.
Kegiatan sederhana ini ternyata membawa perubahan besar bagi anak-anak di sekitar pos. Kehadiran Adi dan rekan-rekannya membuat mereka merasa diperhatikan, seperti memiliki bapak asuh yang hadir setiap saat. Manfaat yang dirasakan anak-anak tidak hanya soal bisa mengaji, tetapi juga:
- Belajar membaca Al-Qur'an dengan sabar dan penuh kasih sayang
- Mendapat bimbingan mengerjakan PR sekolah setiap sore
- Merasa punya sosok bapak asuh yang peduli dan menyayangi
- Semakin rajin datang ke pos karena belajar terasa menyenangkan
Rina (9), salah satu anak yatim yang ditinggal kedua orang tuanya, kini mengaku punya bapak asuh baru. Sebelum ada Adi, Rina sering mengaji sendiri di rumah neneknya. Namun sekarang, setiap sore ia selalu bergegas ke pos, tak sabar duduk di teras bersama teman-temannya. Dengan malu-malu ia bercerita, "Pak Adi baik, diajarnya sabar. Aku jadi bisa baca Al-Qur'an." Mendengar itu, Adi hanya tersenyum. Baginya, melihat anak-anak tumbuh dengan akhlak baik sudah menjadi hadiah terindah.
Dari Kepedulian Satu Orang, Menjadi Program Satgas Pamtas
Perhatian Komandan Pos, Kapten Inf. Eko Prasetyo, membuat kegiatan ini semakin terarah. Ia mengaku bangga dengan inisiatif anak buahnya itu. "Kami akan menjadikan kegiatan ini sebagai program rutin Satgas Pamtas agar keberadaannya benar-benar dirasakan warga, terutama anak-anak di perbatasan," jelas Eko. Menurutnya, tugas menjaga perbatasan bukan hanya soal pengamanan wilayah, tetapi juga merawat harapan dan masa depan generasi Kalimantan Barat. Apa yang dilakukan Adi, kata Eko, adalah bukti bahwa TNI bisa hadir sebagai keluarga bagi masyarakat yang tinggal di pelosok.
Di tengah hiruk-pikuk tugas menjaga batas negara, ada kehangatan yang tumbuh di teras pos. Anak-anak itu tidak hanya belajar mengaji, tetapi juga belajar bahwa mereka tidak sendiri. Masih ada tangan-tangan yang siap menjaga dan membimbing mereka. Semoga semangat gotong royong ini terus menyala, dan makin banyak prajurit TNI yang menjadi bapak asuh bagi anak-anak di pelosok negeri. Karena di balik seragam, ada cinta untuk negeri yang dijaga dengan sepenuh hati — dan untuk anak-anak di Entikong, cinta itu punya nama: Pak Adi.