Matahari sore mulai merunduk di ufuk barat Pulau Seram, Maluku. Di Dusun Solang, sebuah kampung nelayan yang tenang, suara ombak berpadu dengan lantunan merdu anak-anak yang sedang belajar mengaji. Mereka duduk bersila di beranda masjid kecil, dikelilingi oleh prajurit TNI AL yang dengan sabar membimbing huruf demi huruf hijaiyah. Dari kejauhan, para ibu yang sedang menjemur ikan tersenyum bangga—kegiatan mengaji yang dulu sempat sepi kini kembali hidup, berkat kehadiran para prajurit Marinir yang menjadi guru ngaji dadakan. Suasana hangat ini bukan hanya sekadar belajar, melainkan ikatan baru antara kampung nelayan dan para pembela negara.
Kisah di Balik Sore yang Hangat: Saat Seragam Loreng Menjadi Guru Ngaji
Sejak sebulan terakhir, prajurit dari Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan) Ambon bergantian datang ke Dusun Solang. Mereka tidak datang dengan misi patroli atau penjagaan, melainkan untuk duduk di tengah anak-anak dan mengajarkan Al-Qur'an. Kisah ini bermula ketika guru madrasah desa harus merantau ke kota, meninggalkan anak-anak tanpa pengajar mengaji. Tanpa pikir panjang, Letda Marinir Hendra—yang mahir membaca Al-Qur'an—mengajak rekan-rekannya untuk mengisi kekosongan itu. Program ini berjalan beriringan dengan pembinaan teritorial Koramil setempat, sehingga kehadiran mereka terasa menyatu dengan kehidupan warga kampung nelayan.
Setiap sore, beranda masjid kecil itu berubah menjadi ruang belajar yang penuh kehangatan. Anak-anak tak lagi canggung melihat seragam loreng; bagi mereka, para prajurit ini adalah kakak-kakak yang sabar membimbing bacaan. "Kami ingin adik-adik tetap bisa belajar agama meski jauh dari fasilitas," ujar Letda Hendra dengan senyum khasnya. Kehadiran prajurit Marinir ini menjadi jembatan antara tugas negara dan kebutuhan warga di pelosok Pulau Seram, Maluku.
Bahagia yang Tumbuh di Dusun Kecil
Bagi Zainab (9), kehadiran para prajurit adalah berkah yang tak pernah ia bayangkan. Sebelumnya, ia hanya belajar mengaji seadanya dari orang tua yang pengetahuannya terbatas. Kini, dengan bimbingan yang sabar dan teratur dari para Marinir, ia mulai mengenal huruf hijaiyah dengan benar. Kegembiraan serupa juga dirasakan anak-anak lain yang setiap sore berlarian menuju tempat mengaji, tak sabar menunggu giliran belajar. Kehangatan program ini terasa nyata dalam keseharian warga kampung nelayan:
- Anak-anak kini punya kegiatan positif di sore hari, jauh dari rasa bosan atau bermain yang kurang bermanfaat.
- Para orang tua merasa tenang karena anak-anak mereka tetap mendapat pendidikan agama meski fasilitas di desa terbatas.
- Hubungan antara prajurit dan warga makin erat, seperti keluarga sendiri yang saling menjaga.
Bagi warga Dusun Solang, kehadiran prajurit Marinir bukan hanya soal keamanan, tetapi juga kehangatan dan kepedulian yang nyata. Mereka datang bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai saudara yang berbagi ilmu dan kebersamaan. Matahari yang mulai tenggelam di ujung Pulau Seram selalu menemani senyum bahagia anak-anak yang baru saja selesai mengaji. Semoga cerita hangat ini terus berlanjut, dan semakin banyak anak di kampung nelayan yang merasakan cahaya ilmu. Di setiap desa, di setiap pelosok Maluku, semangat gotong royong dan kebersamaan ini akan selalu menjadi jembatan yang menghubungkan hati antara prajurit dan warga, mengingatkan kita bahwa kedekatan teritorial bukanlah sekadar kata, melainkan aksi nyata yang lahir dari kepedulian.