Pagi masih berselimut kabut tipis di Desa Rantau Baru, Kabupaten Pelalawan, Riau. Derap langkah para babinsa dari Koramil 0313/Pelalawan mulai terdengar menyusuri jalan setapak berbatu. Mereka bukan sekadar prajurit, melainkan sahabat bagi warga pelosok yang selama ini kesulitan menjangkau puskesmas. Kali ini, mereka membawa misi mulia: menggelar posyandu keliling untuk menjangkau ibu hamil dan balita di sudut-sudut desa yang hanya bisa diakses dengan berjalan kaki atau mobil dinas yang kadang harus didorong saat lumpur menghadang.
Kisah Emi dan Harapan di Balik Bukit Kecil
Di sebuah rumah panggung sederhana, Emi (22), seorang ibu hamil anak pertama, duduk dengan perut mulai membuncit. Wajahnya sumringah saat Koptu Rina Sari, salah satu babinsa yang juga tenaga kesehatan, memeriksa tekanan darah dan perkembangan janinnya. “Baru kali ini saya bisa diperiksa rutin, jarak ke puskesmas jauh sekali, apalagi kalau hujan jalan licin,” ujar Emi lirih. Emi tidak sendiri; ada belasan ibu hamil lain yang antre dengan sabar. Mereka mendapat imunisasi dasar, pemeriksaan kehamilan, dan vitamin gratis — semua berkat kolaborasi erat antara TNI dan Dinas Kesehatan Kabupaten.
- Pemeriksaan tekanan darah dan perkembangan janin oleh tenaga kesehatan terlatih
- Pemberian vitamin dan imunisasi dasar untuk balita dan ibu hamil
- Edukasi gizi dan pola hidup sehat langsung dari babinsa yang ramah
- Pelayanan tanpa biaya, menjangkau warga yang tinggal di pelosok paling terpencil
Setiap titik pemeriksaan menjadi ruang curhat yang hangat. Para ibu tidak hanya bicara soal kehamilan, tetapi juga sawah, anak-anak, dan cita-cita. Koptu Rina dengan sabar mendengar sambil sesekali mencatat di buku posyandu. “Kami ingin setiap ibu hamil merasa aman, janinnya tumbuh sehat, dan angka kematian ibu-bayi di sini bisa turun drastis,” kata Koptu Rina sambil tersenyum.
Babinsa, Mbah yang Menjemput Asa di Ujung Jalan
Tak semua lokasi bisa ditempuh dengan kendaraan. Di beberapa dusun, babinsa harus berjalan kaki hingga dua jam menenteng kotak obat dan alat kesehatan. Namun semangat mereka tak pernah luntur. “Kami sudah anggap warga sini keluarga sendiri. Kalau ada yang sakit, kami pasti cari jalan,” ujar salah satu babinsa sambil mengelap keringat. Program posyandu keliling ini bukan sekadar layanan kesehatan, melainkan bukti bahwa negara hadir di tengah warga desa yang paling terpencil sekalipun.
Matahari kian tinggi, namun antrean masih mengular. Tawa anak-anak kecil yang mendapat vitamin berbentuk tablet hisap mewarnai suasana. Seorang nenek meningkahi sambil memeluk cucunya. “Terima kasih pak babinsa, semoga selalu sehat,” katanya. Dari balik meja pemeriksaan, Koptu Rina membalas dengan senyum dan lambaian. Di tengah keterbatasan akses dan jarak, semangat gotong royong dan kasih sayang para babinsa bagaikan pelita yang menerangi jalan panjang menuju sehat dan bahagia warga desa. Dan di situlah letak kehangatan sejati — ketika semua tangan saling terulur, tanpa memandang pangkat atau status, membuat setiap ibu hamil dan keluarganya merasa tidak pernah sendiri.