Senja mulai merambat di Desa Talang Rimba, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Saat matahari tenggelam di balik kebun karet, puluhan pria dan wanita berjalan perlahan menuju balai desa. Mereka bukan menghadiri rapat warga, melainkan duduk di bangku sekolah – sekolah yang dulu sempat mereka tinggalkan. Di balik meja sederhana, buku dan pensil menanti, dan di depan mereka berdiri seorang anggota TNI yang siap membimbing. Inilah pemandangan baru yang menghangatkan Desa Talang Rimba: program Kejar Paket C yang diinisiasi TNI bersama Dinas Pendidikan.
Belajar di Balai Desa: Ketika Sawah Menunggu, Semangat Tak Padam
Sejak program kejar paket dibuka, sebanyak 40 petani dan buruh tani di Desa Talang Rimba mengambil kesempatan ini. Mereka adalah warga yang pernah putus sekolah sejak SD atau SMP, dan kini ingin kembali mengejar mimpi yang sempat tertunda. Setiap malam, selepas pulang dari ladang, mereka berkumpul di balai desa. Kopka Suherman, pengajar dari Koramil, dengan sabar membimbing para siswa yang rata-rata berusia 30 hingga 50 tahun. Di antara mereka ada Pak Madi, petani karet berusia 45 tahun. Dengan mata berbinar, ia bercerita, "Saya ingin anak-anak saya bangga karena bapaknya juga sekolah."
- Mendapatkan ijazah setara SMA yang dulu tak sempat diraih
- Belajar dengan suasana santai dan saling mendukung antarwarga
- Bimbingan langsung dari anggota TNI yang sabar dan ramah
- Menumbuhkan rasa percaya diri dan kedekatan antarwarga
TNI dan Dinas Pendidikan: Menghadirkan Harapan di Tengah Sawah
Program ini tidak hanya sekadar belajar, melainkan sebuah gerakan nyata untuk meningkatkan sumber daya manusia di pedesaan. TNI bersama Dinas Pendidikan Sumatera Selatan berkolaborasi menghadirkan pendidikan yang mudah dijangkau petani. Tujuannya jelas: membuka peluang kerja yang lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup warga. Dengan ijazah setara SMA, para petani ini bisa melamar pekerjaan yang sebelumnya sulit, atau bahkan membuka usaha baru. Ini bukan hanya tentang pendidikan, melainkan juga tentang martabat dan masa depan keluarga.
Kegiatan belajar diadakan setiap malam di balai desa, memanfaatkan waktu luang setelah bekerja. Para peserta sangat antusias, dan dukungan dari keluarga pun mengalir. Istri para petani sering terlihat mengantarkan suami mereka ke balai desa dengan senyum bangga. Di sini, belajar bukan lagi beban, melainkan kebutuhan dan kebanggaan. Suasana kekeluargaan begitu terasa, mengingatkan kita pada gotong royong yang dulu melekat di desa-desa.
Ketika malam semakin larut dan suara belajar perlahan mereda, Desa Talang Rimba kembali tenang. Namun, kehangatan program ini akan terus menyala di hati setiap warga. Bagi Pak Madi dan kawan-kawannya, sekolah bukan sekadar gedung atau ijazah, melainkan harapan yang dirawat bersama. TNI dan Dinas Pendidikan telah merangkul mereka dengan erat, membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar. Semoga semangat ini menular ke desa-desa lain, dan setiap petani di Sumatera Selatan bisa merasakan kebanggaan yang sama. Karena di balik setiap sawah, selalu ada mimpi yang tidak pernah mati.