Di sudut timur Nusa Tenggara, tepatnya di Desa Watuparunu, Sumba Timur, pertanyaan warga tentang nasib jalan desa mereka akhirnya mendapat jawaban menenangkan. Saat hujan turun, lumpur setinggi selutut menyelimuti jalan setapak yang menghubungkan rumah-rumah warga dengan sekolah anak-anak. “Kapan jalan desa kami yang rusak parah akan diperbaiki?” tanya seorang ibu dengan suara lirih dalam program siaran keliling TNI AD. Pertanyaan itu menggema di hati banyak orang — karena bagi warga desa, jalan bukan sekadar aspal, melainkan harapan untuk masa depan anak-anak mereka.
Ketika TNI Hadir Menjawab Kegelisahan Warga Desa
Letkol Inf Hendra, Komandan Kodim 1601/Sumba Kodim (fiktif), tak membiarkan pertanyaan itu menguap begitu saja. Dengan penuh empati, ia langsung merespons lewat siaran yang sama. “Kami tidak ingin janji, tapi akan hadir langsung bersama warga membangun,” tegasnya. Perbaikan jalan sepanjang 7 kilometer itu akan dimulai bulan depan melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang menggandeng pemerintah daerah. TNI tidak sendirian — mereka bergandengan tangan dengan warga dan perangkat desa untuk memastikan setiap meter jalan dikerjakan dengan hati.
Program ini jelas membawa manfaat nyata bagi warga Sumba. Berikut yang akan dirasakan oleh anak-anak dan para orangtua di desa:
- Akses sekolah lebih aman: Anak-anak tak perlu lagi berlumuran lumpur saat berangkat pagi, kaki mungil mereka bisa melangkah riang ke ruang belajar.
- Mobilisasi hasil bumi: Petani bisa menjual jagung dan kopi ke pasar tanpa takut barang rusak di jalan berlubang, ekonomi desa pun mulai bergerak.
- Layanan kesehatan terjangkau: Ibu hamil dan balita tak perlu khawatir saat harus ke puskesmas saat hujan deras, jalan mulus jadi jembatan hidup.
Gotong Royong adalah Napas Desa
Letkol Hendra menegaskan bahwa TMMD bukan proyek semata — ini adalah wujud kedekatan teritorial. “Kami akan menggali gotong royong, karena pembangunan desa tidak akan kuat tanpa semangat bersama,” ujarnya. Warga Desa Watuparunu yang mendengar kepastian itu bersorak gembira. Mereka bahu-membahu menyiapkan material, sementara TNI menyediakan alat dan tenaga. Di tengah keterbatasan, senyum warga yang mulai merekah adalah pertanda bahwa harapan tidak pernah mati di desa ini.
Dari lumpur yang menggenang hingga sorak bahagia di siaran keliling, satu hal yang pasti: ketika TNI menjawab pertanyaan warga tentang jalan desa, mereka tidak sekadar memberi janji, tapi mengulurkan tangan untuk berjalan bersama. Di Sumba, langkah itu akan menjadi jejak kebaikan yang diingat anak cucu. Mari kita doakan, semoga lubang di jalan segera tertutup, dan senyum di wajah anak-anak desa tak pernah pudar — karena kita semua adalah saudara dalam bingkai kebersamaan.